Harga Minyak Dunia Merosot Hingga 9 Persen, Resesi Global dan Lockdown China Bikin Gelisah

Harga Minyak Dunia Merosot Hingga 9 Persen, Resesi Global dan Lockdown China Bikin Gelisah

ILustrasi - Harga minyak dunia. FOTO: Dr StClaire - Pixabay.--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Harga minyak dunia merosot hingga 9 persen, yang menjadi penurunan harian terbesar sejak Maret di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi global dan lockdown di China yang dapat memangkas permintaan.

Dikutip dari laporan Reuters, Selasa 5 Juli 2022 atau Rabu 6 Juli 2022 dini hari WIB, harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, menetap di posisi USD102,77 per barel, kehilangan USD10,73, atau 9,5 persen.

(BACA JUGA:IHSG Berpeluang Balik Melemah, GOTO Jadi Salah Satu Saham Rekomendasi Analis Hari Ini)

(BACA JUGA:Tegas! Kemensos Cabut Izin Pengumpulan Donasi ACT, Ada Indikasi Pelanggaran Katanya)

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), merosot 8,2 persen, atau USD8,93, menjadi USD99,50 per barel. Tidak ada setelmen WTI pada sesi Senin karena hari libur di Amerika.

Kedua tolok ukur mencatat penurunan persentase harian terbesar sejak 9 Maret, dan memukul harga saham perusahaan minyak dan gas.

"Kami sedang dalam tekanan hebat dan satu-satunya cara yang dapat menjelaskannya adalah ketakutan akan resesi," kata Robert Yawger, Direktur Mizuho.

Minyak berjangka melemah bersama gas alam, bensin dan ekuitas, yang sering menjadi indikator permintaan bagi minyak mentah.

(BACA JUGA:Alhamdulillah, Rasio Utang BUMN Menurun Jadi 35 Persen)

(BACA JUGA:R&I Rilis Peringkat Utang Indonesia Investment Grade, Gubernur BI: Publik Internasional Percaya Pada RI)

Sementara itu, pengujian massal Covid-19 di China menebar kekhawatiran akan potensi penguncian yang mengancam memperdalam pengurangan konsumsi minyak.

Shanghai mengatakan akan memulai putaran baru pengujian massal terhadap 25 juta penduduknya selama periode tiga hari, mengutip upaya untuk melacak infeksi yang terkait dengan wabah di sebuah bar karaoke.

"Kami melihat beberapa likuidasi panik. Sangat gugup," kata Dennis Kissler, Senior Vice President BOK Financial.

Kekhawatiran bahwa permintaan  driving season  musim panas Amerika akan turun setelah liburan Empat Juli juga tampaknya membebani pasar, tutur Kissler.

Sumber: