Bawazier Soedomo
Awalnya saya kada pinandu dengan Kholid Bawazier. Saya agak ragu saat menyalaminya di Jeddah dua minggu lalu. Ia agak berubah –dibanding lebih 10 tahun lalu. Jenggotnya kini jauh lebih panjang. Umurnya memang sudah 68 tahun.
Awalnya saya kada pinandu dengan Kholid Bawazier. Saya agak ragu saat menyalaminya di Jeddah dua minggu lalu. Ia agak berubah –dibanding lebih 10 tahun lalu. Jenggotnya kini jauh lebih panjang. Umurnya memang sudah 68 tahun.
KEMARIN, pukul 04.30 saya sudah bangun. Saya ada janji ke satu tempat sedikit di luar kota Wamena. Memang janjinya masih jam enam pagi, tapi saya harus berolahraga dulu. Harus satu jam
Refleksi emosional tentang perjalanan karier dan kasus kontroversial Ira Puspadewi serta potret pahitnya keadilan di Indonesia.
Setelah menyusuri sungai Baliem, besoknya saya bertemu penulis buku antropologi ini: Theo Kossay. Ia antropolog kelahiran Wamena yang sudah selesai melakukan penelitian soal
Dahlan sekarang sudah kelas enam SD. Anaknya pintar. Ingin masuk SMP di Jawa. Pun saudara kembarnya yang lahir perempuan: Benyah Gresyah Queen Hesegem.
Pun universitas Islam. Sudah ada yang omzetnya mencapai Rp 1 triliun: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Bagaimana ceritanya: Dr dr Karina berani melakukan T-cell sampai 1,2 miliar sel –dalam sekali tindakan ke pasien kanker.
Sakit kankernya itu mulai terasa saat orang Pasar Minggu Jakarta itu bertugas di Brunei Darussalam. Pahanya terasa nyeri. Ia tidak curiga apa pun. Tiap tahun perusahaan tempatnya bekerja
Happy. Dia mungkin jadi orang Indonesia yang paling berbinar atas penganugerahan hadiah Nobel Kedokteran kepada Prof Shimon Sakaguchi tahun ini: Dr dr Karina SpBE-RE, K.
Inovasi kopi geothermal Kamojang: pengeringan dengan uap panas bumi yang meningkatkan kualitas dan kesejahteraan petani.
Saya sudah urus visa ke Djibouti. Sudah berhasil. Saya ingin melihat negara di mulut Laut Merah itu. Mumpung sudah sampai di Jeddah. Jarak Jeddah-Djibouti tinggal lima sentimeter --kalau di Google Map.
Punya waktu sehari –sebelum peresmian pabrik kopi Kapal Api– saya pilih pergi melihat dua objek: Superdome dan Jeddah Tower.
Saya tersenyum kecil. Pidato sambutan orang Arab itu diawali dengan sapaan ustaz saat menyebut nama Soedomo Mergonoto dan Indra Budiono –dua pendiri perusahaan kopi Kapal Api.
Hanya kebetulan. Di Jeddah ini saya satu hotel dengan Menteri Haji dan Umrah Dr Irfan Yusuf: di Shangri-la Hotel. Ia ke Jeddah diundang menteri haji Arab Saudi.
Judul skenario itu: "Angsa Hitam". Yang membawakan: Andi Widjajanto. Pentasnya: Purnomo Yusgiantoro Center (PYC). Arenanya: Pullman Hotel, Jakarta.
Pasien No 1. Terbitnya putusan Presiden Prabowo soal reformasi Polri ini mengingatkan saya pada Pasien No 1, pementasan teater Butet Kartaredjasa, pekan lalu. Ternyata Pasien No 1 yang dimaksud Butet adalah ''sakitnya hukum di Indonesia''.
Skandal suap jabatan mengguncang Ponorogo. Bupati Sugiri Sancoko ditangkap KPK, mencoreng citra kepemimpinan yang dulu dianggap merakyat.
Jadi, beliau itu sudah tahu bagaimana cara membuat pertumbuhan ekonomi delapan persen," ujar Burhanuddin Abdullah, salah satu tokoh perumus ekonomi tim Prabowo
Spontan. Saya mau mencium kakinya. Di depan umum. Di depan para pengusaha besar Tionghoa di Jakarta.
Hari transplant pun tiba: Jumat. Pukul 08.00, Nisa, sang istri, dibawa lebih dulu ke ruang operasi. Hatinyi akan diambil separo untuk menyelamatkan nyawa suami.
Kisah haru penantian transplant hati Mas Olik di Beijing, di tengah kekhawatiran, harapan, dan keteguhan hati menghadapi waktu.