Perang Hujan
Tentu itu ledekan setengah gurau. Setidaknya begitulah kesan tentang Indonesia di mata orang Singapura saat ini. Marah. Kesal. Tidak berdaya.
"Psi 97," ujarnyi.
Hujan lebat ternyata bisa menurunkan psi dari 170 ke 97. Masih belum baik tapi sudah sangat lumayan. Nanti, di tengah rapat kedua, hujan masih turun. Hari sudah senja. Saya minta aplikasi kembali diperiksa: "psi 195," katanyi.
Ketika hujan deras seperti itu rupanya asap ikut turun ke tanah: menjadi debu basah yang halus. Lalu ikut meresap ke dalam tanah. Itu tidak berbahaya bagi kesehatan tanah. Itu kan asap dari kebakaran tanaman. Bukan termasuk benda polusi.
Maka saya agak "kecewa": tidak bisa ikut merasakan penderitaan akibat asap yang tebal di langit Singapura.
"Benar kan? Berarti Anda orang penting. Bisa mendatangkan hujan," ujar orang asal Tiongkok itu berseloroh. Saya pun membalas selorohan itu dengan humor: "Harusnya Singapura tidak perlu diberi hujan. Mengapa hujan deras begini tidak diturunkan di Kalimantan," kata saya.
Kalau saja di Kalimantan turun hujan sederas ini selesailah itu barang. Tidak perlu lagi ada saling caci-maki antarnegara.
"Di level berapa kadar kemarahan orang Singapura pada Indonesia? Skala 1 sampai 10," tanya saya.
"Sembilan," jawab salah seorang peserta rapat. "Tenggorokan kami sakit semua," tambahnya.
"Marahnya pada siapa? Kepada rakyat Indonesia atau kepada pemerintah?"
"Kepada pemerintah. Kenapa tidak bisa mengatasinya?"
"Menurut Anda bagaimana cara mengatasi kebakaran itu?"
"Kan gampang. Tiap rumah kan punya hydran. Masing-masing rumah memadamkan lingkungan masing-masing," jawabnya.
Dalam hati saya tertawa ngakak. Orang Singapura mengira di Kalimantan sana banyak rumah di sekitar hutan yang terbakar. Lalu membayangkan rumah-rumah itu seperti rumah di Singapura.
Setelah saya jelaskan keadaan yang sebenarnya barulah ia tertegun. "Jadi, sulit ya," katanya.
"Saya sendiri tidak punya ide: cara apa yang efektif. Keadaan sudah sangat terlambat. Satu-satunya jalan keluar tinggallah menunggu datangnya hujan. Sayangnya hujannya justru turun di sini," kata saya.