Catatan Dahlan Iskan . 15/10/2026, 05:46 WIB
Setelah berkendara 1,5 jam tibalah di titik awal camino. Begitu turun mobil di Tsumago waktu terasa diputar balik dengan kecepatan cahaya: begitu cepat tiba ke masa lalu nan lampau. Itulah istimewanya ruas Tsumago-Magome. Kita serasa mendadak berada di tahun 1600-an.
Mulailah kami menapaki jalan tanah, batu dan cadas. Naik. Turun. Naik. Naik. Naik. Belum juga turun. Etape pertama mungkin hanya 1,5 km atau kurang. Tapi kami harus menempuhnya 1,5 jam.
"Kuat pak?" sapa seorang CEO muda dari perusahaan fintech. Ia bertanya begitu sambil memandang tanjakan di depan di tengah hutan momiji --pohon mapple khas Jepang.
"Saya coba," jawab saya.
Kian lama anak muda yang bertanya tadi kian tertinggal di belakang. Dari jauh saya dengar temannya, juga seorang CEO bank digital, bertanya kepadanya: "kuat?". Orang itu menjawab "kalau tidak kuat malu dengan orang tua di depan itu". Ia menjawab dengan suara agak keras seperti ingin memompa semangat saya.
Saya tersenyum mendengar percakapan itu. Saya mencoba tidak menoleh ke kelakang. Saya sudah kenal suara siapa itu. Sudah dua hari kami bersama mereka. Sudah mengenali suaranya satu dengan lainnya.
Saya tersenyum bukan mengejek mereka. Saya tersenyum untuk mengejek diri sendiri. Percakapan seperti itulah yang pernah terjadi 40 tahun lalu. Ketika saya masih semuda mereka. Waktu itu saya memutuskan agar rombongan berjalan kaki saja: dari Makkah ke Arafah. Di musim haji untuk rute itu naik mobil pun tidak akan lebih cepat.
Kami berangkat dari Masjidilharam di Makkah pukul 17.00 --setelah salat asar. Tiba di Arafah pukul 00.00. Di tengah jalan, setiap kali terasa putus asa saya selalu melihat orang yang berjalan di depan saya. Tua. Wanita. Tertatih. "Dia saja kuat. Saya juga harus kuat," kata saya dalam hati.
Teman-teman saya, para manajer saya, tidak ada yang mengeluh. Langkahnya pasti. Kelak, setelah tiba di Arafah saya bertanya mengapa mereka kuat sekali. Padahal saat memutuskan jalan kaki tadi saya punya niat menguji fisik para manajer itu.
"Saya biasa ikut lomba jalan Mojokerto-Surabaya," salah seorang menjawab. Sialan. Saya kecele. Ia manajer untuk perusahaan provider internet. Zaman itu saya sudah mendirikan usaha internet di saat mencari calon konsumen yang mau memiliki email saja sulitnya bukan main. Setelah lima tahun rugi terus, dan terjadi krisis moneter, perusahaan itu saya jual ke manajer tersebut. Harga jualnya seingat saya, Rp1.- Yang penting ia tidak minta pesangon.
"Saya biasa ikut maraton," ujar manajer satunya lagi.
Ternyata justru saya sendiri yang tidak pernah olahraga.
Di Nakasendo ini CEO muda yang bilang malu tadi kelihatannya juga jarang olahraga --lebih sering main golf. Di akhir Nakasendo ia berseloroh sambil termehek-mehek "sampai akhir tahun saya sudah tidak perlu lagi olahraga," katanya. Maksudnya, dengan Nakasendo ia sudah ”mendeposito” kan olahraga dalam jumlah besar yang bisa dianggap sudah olahraga sampai akhir tahun. Ia seorang top manajer bank digital yang olahraga bisa dianggap seperti tabungan.
Akhirnya saya tahu, sepertiga rombongan memutuskan Nakasendo sampai stop pertama saja. Mereka meneruskan perjalanan lewat rute mobil. Kami masih bersemangat. Pemimpin tur kami yang memberi semangat. Pengusaha luar biasa besar dengah badan ramping tadi, mengatakan di akhir etape kedua nanti akan ada air terjun di tengah hutan.
Ia seorang pemimpin sejati. Bisa membangkitkan semangat anggota tim yang sudah hampir putus asa. Saya mencatat ucapan itu sebagai motivasi untuk yang lain.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id