Opini . 13/10/2026, 10:54 WIB

Kongres Ke-42 Syarikat Islam: Mewarisi Apinya, Memperbarui Jalan Perjuangannya

Penulis : Mihardi
Editor : Mihardi

Oleh: Safrizal Rambe

Pengajar PPs Ilmu Politik Universitas Nasional — Sejarawan Syarikat Islam

Dari Surakarta 1905, Melalui Kongres ke-41, Menuju Surabaya 2026

Tak terasa, beberapa hari mendatang, tepatnya pada 18 Oktober 2026, Syarikat Islam (SI), organisasi pelopor pergerakan kebangkitan nasional yang dahulu dikenal dengan nama Sarekat Islam, akan menggelar perhelatan akbar di Surabaya, kota yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kongres Nasional ke-42 ini bukan sekadar agenda organisasi yang berlangsung secara rutin. Ia merupakan momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang perjuangan Syarikat Islam, mengevaluasi relevansi gerakannya di tengah perubahan zaman, sekaligus merumuskan arah perjuangan yang lebih nyata bagi masa depan umat dan bangsa.

Pilihan Surabaya sebagai tempat penyelenggaraan kongres, bertepatan dengan peringatan 121 tahun perjalanan Syarikat Islam, merupakan pilihan yang memiliki makna historis dan strategis. Surabaya bukan hanya kota perjuangan, melainkan juga ruang sejarah tempat Sarekat Islam pernah memperlihatkan kapasitasnya sebagai gerakan massa yang menghubungkan kesadaran kebangsaan dengan perjuangan ekonomi rakyat.

Namun, untuk memahami makna Kongres ke-42 di Surabaya, kita perlu menengok kembali Kongres ke-41 yang diselenggarakan di Surakarta. Sebab, Surakarta dan Surabaya bukanlah dua titik sejarah yang berdiri sendiri. Keduanya terhubung oleh satu garis perjuangan: membangun kemandirian ekonomi pribumi sebagai fondasi kebangkitan dan kemerdekaan bangsa.

Dari Surakarta, kita mewarisi api perjuangan. Dari Surabaya, kita ditantang untuk memperbarui jalan perjuangan itu.

Inilah makna penting dari sebuah seruan: “Mewarisi Apinya, Memperbarui Jalan Perjuangannya.”

Surakarta 1905: Ketika Perjuangan Dimulai dari Ekonomi Rakyat

Sejarah Syarikat Islam tidak dapat dilepaskan dari lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surakarta pada 16 Oktober 1905. Pada masa itu, perjuangan bangsa Indonesia belum terkonsolidasi dalam bentuk gerakan politik nasional seperti yang berkembang pada dekade-dekade berikutnya. Akan tetapi, kesadaran untuk membangun kekuatan ekonomi pribumi telah tumbuh sebagai salah satu jalan menghadapi ketimpangan dan dominasi ekonomi kolonial.

SDI lahir dari kesadaran bahwa kemajuan masyarakat tidak cukup diperjuangkan melalui perubahan politik semata. Rakyat juga harus memiliki kemampuan untuk berdagang, berproduksi, mengembangkan usaha, membangun jaringan ekonomi, dan mempertahankan martabatnya di tengah struktur ekonomi kolonial yang tidak setara.

Dengan demikian, perdagangan bukan sekadar aktivitas mencari keuntungan. Ia merupakan ruang perjuangan untuk membangun kekuatan sosial, memperkuat posisi ekonomi masyarakat pribumi, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan membutuhkan fondasi material yang kokoh.

Di sinilah relevansi sejarah awal SDI bagi Syarikat Islam masa kini.

Para pendiri dan penggerak awalnya memberikan pelajaran bahwa perjuangan besar dapat dimulai dari persoalan konkret yang dihadapi rakyat. Perubahan sosial tidak selalu bermula dari pidato politik atau perdebatan mengenai kekuasaan, tetapi dapat dimulai dari keberanian membangun usaha, memperkuat solidaritas pedagang, mengembangkan jaringan perdagangan, dan menciptakan kemampuan ekonomi secara bersama-sama.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id