Catatan Dahlan Iskan

Hati Ngadirejo

Saya tertarik menulis tentang Andrew setelah tahu dari Prof Dr Priyo Suprobo --mantan rektor ITS yang sekarang menjabat ketua wali amanah perguruan tinggi teknologi Surabaya itu.

Hati Ngadirejo

Oleh: Dahlan Iskan

"Anda kan seperti saya: orang desa. Kok nama Anda Andrew? Dapat dari gereja?" tanya saya.

"Saya muslim, Pak," jawab Andrew.

Saya tertarik menulis tentang Andrew setelah tahu dari Prof Dr Priyo Suprobo --mantan rektor ITS yang sekarang menjabat ketua wali amanah perguruan tinggi teknologi Surabaya itu.

Prof Probo adalah salah satu promotor saat Andrew meraih gelar doktor ilmu komputer di ITS dengan predikat summa cum laude, di usianya yang 29 tahun.

Ayahnya meninggal saat Andre berusia 3 tahun. Ia tidak tahu di mana makam sang ayah. Saat sudah remaja ia mendengar ayahnya tewas dalam kecelakaan lalu lintas dengan status korban tak dikenal.

Andrew juga diberi tahu bahwa ayahnya dulu bekerja sebagai tukang jahit di kota nan jauh di Surabaya. Selebihnya Andrew tidak banyak tahu tentang ayahnya. Yang ia tahu hanyalah ibunya: yang melahirkan dan mempertaruhkan hidupnyi untuk dirinya. Sang ibu harus bekerja apa saja untuk membesarkannya. Termasuk bekerja sebagai pemanjat pohon. Yakni pohon melinjo --memetik buahnya untuk dijadikan emping melinjo kesukaan Anda.

Berarti sang ibu juga sekaligus buruh kupas melinjo: mengupas kulit luarnya yang kupasannya bisa untuk penyedap sayur asam. Kulit dalamnya juga harus dikupas dengan cara dipukul pecah. Baru daging terdalam, yang berukuran sebesar mutiara di kalung wanita kaya, dipenyet tipis. Dikeringkan. Digoreng.

Upahnya hanya cukup untuk beli roti mari makanan Andrew saat bayi. Roti marinya pun harus dihemat. "Satu bungkus harus cukup untuk satu minggu," ujar Andrew mengenang cerita ibunya.

Melinjo hanya berbuah setahun sekali. Pohonnya pun kian lama kian jarang. Setelah suaminyi meninggal, sang ibu dapat cobaan lain lagi: Andrew sakit keras. Sangat keras. Sampai dikira segera meninggal dunia. Masuk RS sampai satu bulan. Sang ibu berusaha keras agar Andrew sembuh --sampai terlilit utang yang di luar kemampuannyi untuk membayar.

Untuk membayar utang itu akhirnya sang ibu merantau jauh: ke Taiwan. Jadi TKW. Di samping untuk mencicil utang juga untuk biaya sekolah Andrew. Anak itu sendiri dititipkan di kakak sang ibu --disebut bude. Atau su su dalam bahasa Mandarin. Rumah bu de hanya 10 meter dari rumahnya.

"Waktu saya sudah SMP ibu baru pulang dari Taiwan," ujar Andrew.

Sang ibu minta Andrew melanjutkan sekolah. Biaya bisa dicari. Masuklah Andrew ke SMK Negeri Ngadirejo. Andrew ambil jurusan komputer dan jaringan.

Sang ibu pun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya. Yakni di sebuah rumah di kompleks Pakuwon Surabaya barat. Andrew harus terus sekolah. Harus sampai sarjana.

Setamat SMK Andrew mencari tempat kuliah. Kalau bisa di ITS. Agar cocok dengan jurusannya di SMK dan dekat dengan tempat kerja ibunya. Andrew nggak berhasil tes masuk ITS. Ke universitas lain juga gagal.

Berita Terkait