Kongres Ke-42 Syarikat Islam: Mewarisi Apinya, Memperbarui Jalan Perjuangannya
Dari Surakarta 1905, Melalui Kongres ke-41, Menuju Surabaya 2026
Mewarisi api perjuangan berarti mempertahankan keberanian, cita-cita, dan semangat pengabdian para pendahulu. Memperbarui jalan perjuangan berarti berani mengevaluasi kelemahan, membangun strategi baru, memperkuat organisasi, dan mengubah gagasan menjadi kerja nyata.
Jika dahulu para pendahulu berjuang memperkuat perdagangan pribumi di tengah tekanan ekonomi kolonial, maka generasi sekarang harus berani menghadapi tantangan baru: persaingan pasar, kesenjangan penguasaan teknologi, lemahnya posisi tawar pelaku usaha kecil, serta kebutuhan membangun ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Api perjuangan itu tetap sama, tetapi medan dan alat perjuangannya telah berubah.
Dari Surakarta 1905, kita belajar tentang keberanian memulai. Dari Kongres ke-41, kita belajar tentang pentingnya kembali menemukan arah. Dari Surabaya 1913, kita belajar tentang kemampuan mengembangkan kesadaran ekonomi menjadi gerakan yang lebih luas. Dan melalui Kongres ke-42 di Surabaya pada Oktober 2026, kita ditantang untuk menyatukan warisan tersebut menjadi agenda perjuangan yang terukur dan berkelanjutan.
Sudah saatnya dakwah ekonomi tidak hanya menjadi slogan, melainkan gerakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh pedagang kecil, petani, nelayan, pelaku usaha, anggota koperasi, dan masyarakat luas.
Syarikat Islam memiliki sejarah yang panjang. Namun, masa depannya tidak ditentukan oleh panjangnya sejarah itu semata, melainkan oleh kemampuannya menjawab kebutuhan zaman.
Mewarisi apinya, memperbarui jalan perjuangannya.
Dari Surakarta menuju Surabaya, dari kebangkitan ekonomi menuju kemandirian umat, dan dari warisan sejarah menuju kemerdekaan sejati.
Itulah tantangan sekaligus panggilan Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam.