Kongres Ke-42 Syarikat Islam: Mewarisi Apinya, Memperbarui Jalan Perjuangannya
Dari Surakarta 1905, Melalui Kongres ke-41, Menuju Surabaya 2026
Kesinambungan berarti mempertahankan cita-cita dasar yang telah menjiwai kelahiran organisasi. Pembaruan berarti mengembangkan cara kerja yang lebih efektif agar cita-cita tersebut mampu menjawab persoalan masyarakat pada masa kini.
Dua hal ini tidak boleh dipertentangkan. Organisasi yang hanya mengejar pembaruan tanpa pijakan sejarah berisiko kehilangan identitas. Sebaliknya, organisasi yang hanya memuja sejarah tanpa pembaruan akan kesulitan menjawab perubahan sosial dan ekonomi.
Syarikat Islam membutuhkan keduanya.
Pertama, menghidupkan kembali dakwah ekonomi sebagai orientasi perjuangan. Dakwah ekonomi perlu menjadi gerakan yang mendorong peningkatan kemampuan usaha masyarakat, penguatan etika bisnis, perluasan akses pasar, dan pengembangan jaringan ekonomi umat. Ukuran keberhasilannya bukan hanya banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan juga bertambahnya kemampuan masyarakat untuk berusaha secara mandiri.
Kedua, membangun ekosistem ekonomi umat yang saling terhubung. Pedagang kecil, pelaku usaha mikro dan kecil, petani, nelayan, produsen, koperasi, dan konsumen perlu dipertemukan dalam jaringan yang memungkinkan terjadinya kerja sama produktif. Potensi organisasi akan lebih berarti apabila dapat membantu memperpendek rantai distribusi, memperluas pemasaran, memperkuat daya tawar produsen, dan meningkatkan nilai tambah produk.
Ketiga, menjadikan koperasi sebagai salah satu instrumen perjuangan ekonomi bersama. Koperasi memiliki relevansi dengan tradisi ekonomi kerakyatan karena memungkinkan masyarakat menghimpun sumber daya, memenuhi kebutuhan bersama, dan mengembangkan usaha berdasarkan partisipasi anggota. Namun, koperasi tidak boleh berhenti pada nama, papan identitas, atau kelengkapan administratif. Ia harus tumbuh sebagai badan usaha yang sehat, profesional, demokratis, dan benar-benar memberikan manfaat bagi anggotanya.
Keempat, mengembangkan kaderisasi ekonomi. Syarikat Islam membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami sejarah dan ideologi organisasi, tetapi juga menguasai kewirausahaan, manajemen, teknologi digital, pemasaran, pembiayaan, dan tata kelola usaha. Semangat perjuangan perlu diterjemahkan menjadi kompetensi agar kader mampu mengambil peran nyata dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
Kelima, memperkuat kolaborasi tanpa kehilangan kemandirian. Syarikat Islam perlu membangun kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, dan organisasi masyarakat lainnya. Akan tetapi, kolaborasi harus bertolak dari agenda pemberdayaan masyarakat dan kepentingan anggota, bukan sekadar mengikuti program atau menjadi pelengkap kebijakan pihak lain.
Agenda-agenda tersebut membutuhkan perencanaan yang terukur, pembagian tanggung jawab yang jelas, kelembagaan yang profesional, dan evaluasi yang berkelanjutan. Kongres seharusnya mampu menghasilkan arah kebijakan yang dapat diterjemahkan menjadi program kerja, target capaian, serta mekanisme pertanggungjawaban organisasi.
Dengan begitu, Kongres ke-42 tidak hanya menghasilkan keputusan mengenai kepemimpinan dan tata organisasi, tetapi juga memperkuat orientasi perjuangan ekonomi Syarikat Islam untuk lima tahun mendatang.
Baca Juga
Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati
Mengapa dakwah ekonomi perlu kembali menjadi salah satu pusat perjuangan Syarikat Islam?
Jawabannya terletak pada pemahaman bahwa kemerdekaan tidak selesai ketika suatu bangsa telah memiliki kedaulatan politik. Kemerdekaan juga harus hadir dalam kemampuan masyarakat menentukan arah kehidupannya, mengembangkan potensi ekonominya, dan menikmati hasil pembangunan secara adil.
Bangsa yang merdeka secara politik tetap menghadapi persoalan apabila sebagian besar rakyatnya tidak memiliki akses yang memadai terhadap sumber daya produktif, kesempatan berusaha, pasar, teknologi, dan pendidikan. Demikian pula, umat tidak dapat membangun kemandirian apabila hanya menjadi konsumen tanpa memiliki kemampuan untuk memproduksi, mengelola usaha, dan memperkuat jaringan distribusi.
Dalam konteks inilah dakwah ekonomi menemukan makna strategisnya.