Opini . 13/10/2026, 10:54 WIB

Kongres Ke-42 Syarikat Islam: Mewarisi Apinya, Memperbarui Jalan Perjuangannya

Penulis : Mihardi
Editor : Mihardi

Dengan demikian, kembali kepada azimut berarti mempertahankan tujuan dasar perjuangan sembari memperbarui strategi, instrumen, dan kelembagaan yang digunakan untuk mencapainya.

Yang harus diwarisi adalah api perjuangannya, bukan keterbatasan cara-cara masa lalunya.

Surabaya 1913: Dari Kesadaran Ekonomi Menuju Gerakan yang Lebih Luas

Jika Surakarta mengingatkan kita pada akar perjuangan ekonomi, Surabaya mengingatkan kita pada fase ketika Sarekat Islam berkembang menjadi gerakan yang memiliki jangkauan sosial dan politik lebih luas.

Pada 26 Januari 1913, Surabaya menjadi tempat penyelenggaraan kongres awal Sarekat Islam yang penting dalam sejarah perkembangan organisasi ini. Momentum tersebut memperlihatkan bagaimana organisasi yang berakar pada kepentingan ekonomi dapat berkembang menjadi kekuatan pergerakan yang menjangkau persoalan masyarakat secara lebih luas.

Di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto dan para penggerak Sarekat Islam lainnya, organisasi ini berkembang menjadi wadah artikulasi kepentingan rakyat, membangun kesadaran bersama, dan memperkuat hubungan antara persoalan ekonomi dengan martabat serta kedudukan masyarakat pribumi.

Dalam konteks sejarah itu, ekonomi bukanlah persoalan yang terpisah dari kehidupan sosial dan politik. Ketidakberdayaan ekonomi dapat membatasi kebebasan masyarakat, sementara kemampuan ekonomi dapat memperkuat daya tawar dan partisipasi mereka dalam kehidupan bersama.

Kongres awal Sarekat Islam di Surabaya karena itu penting dibaca sebagai bagian dari proses transformasi organisasi: dari ikhtiar memperkuat kepentingan ekonomi menuju gerakan yang lebih luas dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Pelajaran lainnya adalah bahwa gagasan perjuangan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan dan organisasi yang konkret. Semangat kebangkitan tidak cukup diwujudkan melalui pidato dan seruan, melainkan harus menghasilkan kemampuan kolektif untuk mengorganisasi masyarakat, memperluas jaringan usaha, dan memperjuangkan perubahan yang dapat dirasakan.

Tradisi perjuangan ekonomi Sarekat Islam kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi bagi upaya membangun kemandirian rakyat melalui usaha bersama dan penguatan kelembagaan ekonomi.

Dalam konteks inilah Kongres ke-42 di Surabaya seharusnya tidak berhenti pada peringatan sejarah. Ia perlu menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali pertanyaan yang dahulu mendasari kelahiran gerakan ini: bagaimana umat dapat keluar dari ketergantungan ekonomi dan membangun kekuatan sendiri?

Jika pada 1913 Surabaya menjadi salah satu panggung penting bagi perkembangan Sarekat Islam, maka pada 2026 kota ini kembali dapat menjadi ruang untuk menegaskan bahwa perjuangan ekonomi rakyat tetap relevan sebagai agenda kebangsaan.

Surabaya tidak sekadar mengingatkan kita pada kebesaran masa lalu. Ia menuntut keberanian untuk merumuskan masa depan.

Kongres ke-42: Mengubah Warisan Sejarah Menjadi Agenda Perjuangan

Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam di Surabaya harus ditempatkan dalam kerangka kesinambungan sejarah sekaligus pembaruan gerakan.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id