Opini . 13/10/2026, 10:54 WIB

Kongres Ke-42 Syarikat Islam: Mewarisi Apinya, Memperbarui Jalan Perjuangannya

Penulis : Mihardi
Editor : Mihardi

Semangat tersebut selaras dengan gagasan bahwa kebangkitan bangsa tidak mungkin hanya bertumpu pada kemerdekaan politik apabila rakyatnya masih bergantung secara ekonomi kepada kekuatan lain.

Oleh karena itu, kelahiran SDI harus dipahami bukan semata-mata sebagai peristiwa pendirian organisasi dagang, melainkan sebagai salah satu akar penting tradisi perjuangan ekonomi dalam pergerakan nasional Indonesia.

Dari titik inilah dakwah ekonomi memperoleh relevansinya. Dakwah tidak hanya menyampaikan ajaran mengenai kebaikan, kejujuran, dan keadilan, tetapi juga menggerakkan umat agar memiliki kemampuan untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan ekonomi.

Dakwah ekonomi berarti mendorong umat menjadi pelaku ekonomi yang produktif, membangun usaha yang berkeadilan, memperkuat kerja sama, dan menciptakan kesejahteraan yang tidak hanya dinikmati segelintir orang.

Inilah api yang diwariskan dari Surakarta: kesadaran bahwa kemandirian ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari martabat umat dan kemerdekaan bangsa.

Kongres ke-41: Back to Azimut, Kembali Menemukan Arah

Penyelenggaraan Kongres ke-41 di Surakarta dengan mengusung tema Back to Azimut memiliki arti penting dalam perjalanan Syarikat Islam. Tema ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk kembali kepada arah dasar perjuangan, menelusuri akar historis organisasi, dan menemukan kembali orientasi yang menjadi alasan Syarikat Islam dilahirkan.

Kembali kepada azimut bukan berarti membawa organisasi kembali ke masa lampau secara harfiah. Ia juga bukan ajakan untuk mengulang seluruh bentuk perjuangan yang pernah digunakan oleh generasi terdahulu. Sebaliknya, Back to Azimut adalah usaha menemukan kembali kompas perjuangan agar organisasi tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Surakarta menjadi tempat yang tepat untuk mengingat kembali fondasi tersebut. Di kota inilah semangat perjuangan ekonomi pribumi memperoleh salah satu titik awal organisasionalnya melalui SDI pada 1905. Menghidupkan kembali spirit Surakarta berarti menempatkan persoalan ekonomi rakyat sebagai bagian penting dari agenda perjuangan Syarikat Islam.

Pertanyaan mendasarnya adalah: setelah lebih dari satu abad perjalanan sejarah, sejauh mana semangat kemandirian ekonomi itu telah diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi umat yang nyata?

Pertanyaan tersebut penting karena kebesaran sejarah tidak dengan sendirinya menjamin kekuatan organisasi pada masa kini. Warisan perjuangan dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi juga dapat kehilangan daya ubah apabila hanya dipelihara dalam bentuk romantisme masa lalu.

Karena itu, Back to Azimut seharusnya menjadi panggilan untuk melakukan koreksi dan pembaruan. Syarikat Islam perlu kembali menempatkan ekonomi rakyat, kemandirian usaha, penguatan jaringan perdagangan, koperasi, dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari orientasi gerakannya.

Api perjuangan para pendahulu harus dijaga, tetapi cara menyalakannya perlu disesuaikan dengan tantangan zaman.

Pada masa awal SDI, persoalan utamanya adalah memperkuat kedudukan pedagang dan masyarakat pribumi dalam struktur ekonomi kolonial. Pada masa kini, tantangannya berkembang menjadi persoalan penguasaan pasar, akses permodalan, penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, distribusi produk, ketergantungan terhadap rantai pasok, dan kemampuan usaha rakyat menghadapi persaingan ekonomi yang semakin kompleks.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id