Post Truth dan Krisis Nalar Publik di Era Digital
Ada satu hal yang berubah secara drastis dalam kehidupan kita hari ini, informasi tidak lagi sulit ditemukan.
Masalahnya, kita kemudian merasa bahwa semua orang berpikir seperti kita, padahal belum tentu. Kita hanya sedang melihat dunia melalui jendela informasi yang sama.
Di sinilah polarisasi mulai tumbuh.
Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi sesuatu yang biasa dalam masyarakat berubah menjadi pembelahan sosial. Orang tidak lagi melihat pihak yang berbeda sebagai orang yang memiliki pandangan lain, tetapi mulai melihatnya sebagai kelompok yang salah. Dalam situasi yang lebih buruk, bahkan sebagai musuh.
Saya kira inilah salah satu bahaya terbesar era post-truth. Kita bukan hanya berpotensi memiliki pendapat yang berbeda. Kita berpotensi memiliki realitas yang berbeda.
Ancaman yang Lebih Besar di Era Artificial Intelligence
Persoalan ini menjadi semakin kompleks dengan perkembangan Artificial Intelligence atau AI. AI tentu membawa banyak manfaat. Ia dapat membantu pekerjaan manusia, mempercepat pengolahan informasi, mendukung pendidikan, penelitian, pelayanan publik, hingga berbagai sektor ekonomi. Tetapi teknologi selalu memiliki dua sisi.
Kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, suara, dan video secara cepat juga dapat digunakan untuk membuat informasi yang sulit dibedakan dari kenyataan. Di sinilah kita perlu mulai berpikir lebih serius, Jika sebelumnya masyarakat menghadapi persoalan bagaimana memeriksa sebuah informasi, ke depan kita juga akan menghadapi persoalan bagaimana memastikan bahwa sesuatu yang kita lihat, dengar, atau baca benar-benar berasal dari peristiwa yang nyata.
Perusahaan teknologi dan perkembangan AI akan semakin memiliki pengaruh terhadap bagaimana manusia memperoleh informasi, Algoritma menentukan apa yang kita lihat. Sistem rekomendasi menentukan apa yang muncul berikutnya.
Teknologi menentukan bagaimana sebuah konten diproduksi dan didistribusikan. Karena itu, masa depan Indonesia tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak masyarakat yang terkoneksi dengan internet atau seberapa cepat kita mengadopsi AI.
Kita juga harus bertanya: Apakah masyarakat kita siap hidup di tengah teknologi yang semakin pintar tanpa kehilangan kemampuan berpikir?
Baca Juga
Sebab teknologi yang canggih tidak otomatis melahirkan masyarakat yang rasional.
Teknologi hanya memperbesar kemampuan manusia. Jika digunakan untuk pengetahuan, ia mempercepat pengetahuan. Jika digunakan untuk kebencian, ia juga dapat mempercepat kebencian.
Kita Membutuhkan Healthy Digital Literacy
Karena itu, literasi digital menurut saya tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat atau membuka berbagai platform media sosial.
Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memahami bagaimana informasi bekerja.