Opini

Post Truth dan Krisis Nalar Publik di Era Digital

Ada satu hal yang berubah secara drastis dalam kehidupan kita hari ini, informasi tidak lagi sulit ditemukan.

Post Truth dan Krisis Nalar Publik di Era Digital
Ketua Bidang Komunikasi dan Digital PB HMI Periode 2024-2026, Ramon Hidayat. Foto: Dok Pribadi

Oleh: Ramon Hidayat

Ketua Bidang Komunikasi dan Digital PB HMI Periode 2024-2026

Ada satu hal yang berubah secara drastis dalam kehidupan kita hari ini, informasi tidak lagi sulit ditemukan. Justru sebaliknya, informasi datang begitu banyak, begitu cepat, dan dari berbagai arah. Dalam satu hari, kita bisa menerima puluhan bahkan ratusan informasi melalui media sosial, grup percakapan, portal berita, video pendek, hingga berbagai platform digital lainnya.

Tetapi di tengah kelimpahan informasi itu, ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting: apakah masyarakat semakin mudah menemukan kebenaran, atau justru semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang hanya terasa benar?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita memasuki era post-truth. Post-truth bukan berarti kebenaran sudah tidak ada. Fakta tetap ada. Data tetap tersedia. Bahkan akses terhadap pengetahuan hari ini jauh lebih terbuka dibandingkan masa sebelumnya. Persoalannya adalah fakta tidak selalu menjadi faktor utama yang menentukan apa yang dipercaya masyarakat.

Emosi sering kali datang lebih dahulu. Rasa marah, takut, kecewa, fanatisme, hasrat, bahkan kebencian dapat membuat seseorang menerima sebuah informasi sebelum sempat memeriksa apakah informasi tersebut benar atau tidak.

Di titik inilah saya melihat persoalan post-truth bukan lagi sekadar masalah hoaks. Ia sudah berkembang menjadi persoalan yang lebih besar: krisis nalar publik.

Dalam keadaan normal, kita berharap sebuah informasi dinilai berdasarkan fakta dan bukti. Ada klaim, kemudian diperiksa sumbernya, diverifikasi datanya, lalu dipertimbangkan sebelum akhirnya dipercaya. Tetapi ruang digital sering bekerja dengan cara yang berbeda. Informasi yang membuat orang marah bisa menyebar lebih cepat daripada informasi yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Informasi yang menimbulkan ketakutan lebih mudah mendapatkan perhatian, tuduhan yang menyentuh emosi sering kali lebih menarik daripada penjelasan panjang yang penuh data.

Di sinilah persoalan DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian) menjadi penting.

Disinformasi dapat membentuk persepsi yang keliru. Fitnah dapat menghancurkan reputasi seseorang atau kelompok. Sementara kebencian dapat mengubah perbedaan menjadi permusuhan. Ketiganya dapat berkembang dalam satu rangkaian.

Sebuah informasi yang tidak benar disebarkan. Kemudian dipercaya. Setelah itu dibumbui dengan narasi tertentu. Lalu diarahkan kepada seseorang atau kelompok. Ketika terus diulang, informasi tersebut akhirnya dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian masyarakat. Padahal pengulangan tidak pernah mengubah kebohongan menjadi fakta. Yang berubah hanya persepsi manusia terhadapnya.

Penelitian MIT yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2018 menunjukkan bahwa berita palsu di Twitter menyebar lebih cepat dan lebih luas dibandingkan berita benar. Dalam salah satu pengukuran penelitian tersebut, berita palsu mencapai 1.500 orang sekitar enam kali lebih cepat daripada berita benar.

Temuan tersebut memberi kita pelajaran penting: persoalan terbesar dalam ruang informasi bukan hanya bagaimana menghasilkan informasi yang benar, tetapi bagaimana memastikan informasi yang benar mampu bertahan di tengah derasnya arus informasi yang emosional.

Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Pertarungan Identitas

Persoalan berikutnya adalah polarisasi, Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk bertukar pikiran. Tetapi dalam praktiknya, kita sering melihat media sosial berubah menjadi ruang pertarungan identitas. Kita mengikuti orang yang sepemikiran, Membaca media yang sesuai dengan pandangan kita, Bergabung dengan komunitas yang memiliki cara pandang yang sama.

Pada awalnya semua terlihat biasa Namun, jika berlangsung terus-menerus, kita dapat masuk ke dalam apa yang disebut echo chamber, sebuah ruang informasi di mana pandangan yang sama terus dipantulkan dan diperkuat.

Berita Terkait