Catatan Dahlan Iskan . 29/09/2026, 08:43 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Cara berkomunikasi orang Amerika, Inggris, dan Tiongkok begitu berbedanya. Itu tecermin dari penampilan Donald Trump dari Amerika, McCarney dari Kanada, dan Xi Jinping dari Tiongkok.
Orang Amerika tidak suka yang kaku dan formal. Apalagi di tangan Trump. Ia baru saja menabrak protokoler: menjemput sendiri kedatangan Xi Jinping di depan tangga pesawat. Bersama istri pula: Melania –karena presiden Tiongkok itu datang ke Washington DC disertai istrinya yang penyanyi, Peng Liyuan.
Dalam ilmu lama diplomasi cara Trump itu bisa ditafsirkan sangat jelas: Trump ingin mengambil hati terdalam Xi Jinping. Untuk apa? Bukankah selama ini Trump menganggap Xi adalah penyebab utama melemahnya ekonomi Amerika? Bukankah Trump selalu menghukum Tiongkok sangat berat sebagai wujud kejengkelannya? Bisakah itu ditafsirkan sebagai rasa penyesalan Trump akan perang dagangnya dengan Xi selama ini –yang nyatanya hukuman itu lebih banyak berdampak negatif pada ekonomi warga Amerika sendiri?
Itu tafsir normal. Orang yang tidak normal tidak bisa ditafsirkan secara normal. Anda sudah tahu: Trump itu biasa pagi tempe sore kedelai.
Yang menarik justru memperhatikan apa yang disampaikan Xi Jinping kepada Trump. Yakni di acara makan malam di Gedung Putih untuk menyambut kedatangannya yang istimewa. Xi mengingatkan peristiwa lama yang menggambarkan betapa indahnya persahabatan Amerika-Tiongkok. Juga peristiwa yang lebih baru yang intinya betapa hubungan Amerika dan Tiongkok itu selalu istimewa. Sejak dahulu sampai belakangan. Maksudnya: baru di zaman Trump ini saja memburuk.
Mengenai indahnya hubungan puluhan tahun lalu Xi menyebut contoh ini: di perang dunia kedua begitu banyak rakyat Tiongkok yang meninggal demi menyelamatkan nyawa puluhan pilot Amerika.
Waktu itu Amerika mengirim begitu banyak pesawat tempur untuk menyerang Jepang. Banyak pesawat yang ditembak Jepang. Jatuh di wilayah Tiongkok. Celakanya wilayah Tiongkok itu masih di bawah kekuasaan penjajah Jepang. Dengan sembunyi-sembunyi rakyat Tiongkok menyelamatkan nyawa mereka. Pilot-pilot itu disembunyikan di rumah mereka. Dirawat. Diobati.
Ada juga pesawat yang nekat: tahu persediaan bahan bakarnya tidak cukup tetap saja terbang. Setelah menjatuhkan bom mendarat darurat di daratan Tiongkok. Diselamatkan penduduk.
Banyak penduduk Tiongkok yang akhirnya dihukum mati Jepang karena tindakan penyelamatan itu. Ternyata para pilot itu, dibekali secarik 'jimat'. Secuil kertas. Isinya: tulisan dalam huruf Mandarin yang pilot itu sendiri tidak bisa membacanya. 'Jimat' itu dimasukkan saku dengan harapan rakyat Tiongkok menemukannya, membacanya dan menolongnya.
Kisah-kisah penyelamatan pilot itu banyak ditulis oleh para pilot itu sendiri. Bahkan anak cucu sang pilot ada yang sampai ke Tiongkok mencari anak cucu orang yang menyelamatkan nyawa leluhur mereka.
Mungkin Trump sudah lupa peristiwa kemanusiaan yang indah itu. Sudah terlalu lama berlalu.
Maka Xi Jinping perlu menguraikan peristiwa lain yang lebih baru: 1 September lalu. Tidak kalah mengharukannya.
Seorang pensiunan guru di Pennsylvania terbang ke Tiongkok untuk menemui seorang wanita di pedalaman Mongolia. Itu karena sang guru membaca namanya disebut di medsos. Isinya: Si wanita sudah lama mencarinya. Untuk apa? Hanya untuk mengucapkan terima kasih.
Sang guru, Sakolsky, pernah mengajar di SMA di daerah Laoyang –provinsi Henan. Di zaman lama kota ini pernah sebentar jadi ibu kota kekaisaran Tiongkok. Letaknya tidak terlalu jauh dari Xiaolin Tempel yang sudah Anda kenal.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id