Catatan Dahlan Iskan

Durian Jonathan

Medan. Saya hanya punya waktu me time dua jam di Medan Rabu sore lalu. Yakni setelah tampil di depan 500 lebih nasabah Bank Permata di sana. Pilihan untuk memanfaatkannya hanya dua: ke Ucok atau ke Si Bolang --dua-duanya restoran khusus durian.

Durian Jonathan

Oleh: Dahlan Iskan

Medan. Saya hanya punya waktu me time dua jam di Medan Rabu sore lalu. Yakni setelah tampil di depan 500 lebih nasabah Bank Permata di sana. Pilihan untuk memanfaatkannya hanya dua: ke Ucok atau ke Si Bolang --dua-duanya restoran khusus durian.

Sebenarnya saya ingin kuliner yang lain. Begitu banyak makanan khas Medan. Tapi saya sudah makan siang dan masih akan makan malam bersama.

Durian Ucok kini sudah bukan warung pinggir jalan lagi. Ucok sudah ditata seperti umumnya resto kelas menengah atas: bersih, rapi, terhormat.

Yang membuat saya tidak bahagia: duriannya habis.

Kok bisa.

"Lagi tidak musim," kata petugasnya.

"Kok tetap buka?" tanya saya.

"Siapa tahu ada yang mau makan durian frozen," jawabnya.

Sebetulnya saya mau juga. Durian beku tidak turun rasa duriannya. Hanya saja belum bisa dimakan saat itu juga. Harus ditunggu setidaknya 15 menit. Itu pun masih seperti es. Harus tunggu empat jam baru mendapat tekstur yang ideal.

Durian beku umumnya sudah dalam bentuk kupasan. Kalau untuk menghilangkan bekunya pakai pemanas, rasa dan teksturnya tidak normal.

Saya pernah. Sekali. Makan durian beku. Masih utuh. Durian itu dibekukan masih lengkap dengan kulit dan duri-durinya. Membekukannya pakai nitrogen. Tetap saja sangat sulit membuka kulitnya.

Maka saya pilh meninggalkan Ucok. Masih ada satu lagi: Si Bolang. Tidak kalah penampilannya. Bersih, tertata, rapi. Lantainya dibuat dari rumput sintetis yang terawat hijau.

Letak Si Bolang hanya 10 menit bermobil dari Ucok. Tapi sejak turun dari mobil sudah terlihat mengkhawatirkan: tidak ada pajangan durian yang berjajar-jajar. Semua raknya kosong. Meski sudah pesimistis tetap saja turun sampai ke tujuan: ups... masih ada lima butir.

"Tinggal black thorn," ujar pelayannya. Maksudnya: tinggal yang harganya mahal.

Berita Terkait