Catatan Dahlan Iskan

Debat Muktamar

Inilah orang yang paling dicari –dan mungkin dimaki-maki– oleh mereka yang terpilih sebagai pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Lilur. Nama lengkapnya Gus Haji Raden Muhammad Khalilur Abdullah Sahlawiy.

Debat Muktamar
Gus Lilur saat menghadiri Muktamar NU beberapa waktu lalu.--

Hah? Saya tidak mau salaman?

"Oh ... saya ingat Gus. Waktu itu saya baru pulang operasi ganti hati. Saya harus jaga diri baik-baik. Termasuk tidak mau salaman dengan siapa pun. Agar tidak terkena kuman," kata saya.

"Iya. Saya maklum kok," katanya.

Saya pun lega.

"Kenapa Gus kok sampeyan membuka soal uang di Muktamar itu?"

"Saya menjalankan ayat Quran dan hadis Nabi. Kemungkaran harus diberantas, agar Muktamar yang akan datang tidak terjadi seperti ini lagi," katanya.

"Waktu muktamar Anda hadir?"

"Saya hadir".

"Tapi kan ada yang bilang Anda bukan anggota NU?".

"Saya ini sebelum lahir sudah NU," katanya. "Ayah saya itu santrinya Kiai As'ad Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo," katanya. Nama yang disebut itu adalah ulama besar yang mendirikan pondok besar di Sukorejo, Situbondo. Ia kiai papan atas di dunia NU. Ke Gus Dur pun tidak takut: pernah menyatakan mufaraqah –memisahkan diri sementara– dengan Gus Dur.

"Tapi kenapa tidak pernah jadi pengurus NU?"

"Kalau saya mau, saya sudah jadi pengurus PBNU di zaman Ketua Umum Buya Said Aqil Siroj. Tapi saya tidak mau. Saya mau jadi konglomerat," katanya.

Said Aqil adalah guru Gus Lilur semasa di UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Yakni ketika Kiai Aqil Siroj baru kembali dari kuliah S-3 di Ummul Quro, Saudi Arabia. Saat itu Gus Lilur masih di tahun ketiga sebagai mahasiswa. Ia mengambil jurusan filsafat. "Filsafat aqidah," katanya. Setelah lulus UIN tidak ambil S-2 atau S-3. Ia terjun ke dunia usaha.

"Ada juga yang bilang Anda ini kecewa karena tidak dipercaya mengelola tambang batu bara milik NU".

"Untuk apa? Tambang saya sendiri tidak terurus. Tambang saya sendiri sudah banyak," katanya.

Berita Terkait