ArtSubs Rambat
Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.
Tidak semuanya lukisan. Ada seni instalasi. Ada patung. Ada seni arsitektur.
Misalnya ada satu ruangan kamar tidur seperti benar-benar kamar tidur yang mewah. Tapi ranjangnya, kursi tamunya, kursi sofanya, lemarinya, semua berbentuk penyet. Pun pintu masuk dan lebar kamarnya sendiri.
Ada juga satu ruangan isinya karya pematung terkenal Nyoman Nuarta: mulai miniatur istana di IKN sampai gerbang perunggunya. Nyoman memang pemenang desain istana dan masjid IKN. Nyoman ikut hadir di pembukaan.
Di dekat pintu gerbang adalah museum seni. Karya kolaborasi seniman KBUSR. Di dalamnya ada karya Handiwirman, Yusra, Yuli, Koko, Agung, dan Ardana. Ini seni instalasi yang diberi nama museum. Ide awalnya halaman museum itu akan terbuat dari hamparan lumpur Lapindo. Tapi tidak dapat izin membawa lumpur asli Lapindo ke Alon-Alon.
Begitu banyak lukisan mahal di ArtSubs: termahal seharga Rp 3 miliar. Tapi ada juga satu kawasan khusus untuk ''UMKM''-nya lukisan: yang harganya di bawah Rp 20 juta/lukisan.
Surabaya yang ''gersang seni'' ternyata punya pelukis yang masuk kriteria ArtSubs: Gabriel Eva. Lukisan "Hutan Alice'' -nyi dipajang besar sekali. Indah. Teduh. Di pojok lukisan itu ada semacam jendela atau lorong kecil. Di ujung lorong sana terlihat hutan teduh dari jauh. Anda harus berimajinasi seolah masuk ke lorong itu: terlihatlah alam raya –dan itu adalah lukisan besar Gabriel di depan Anda.
Dulu saya mengenal Gabriel sebagai desainer baju. Dia memang Arek Suroboyo yang sekolah di Arva School of Fashion Surabaya. Gabriel seorang pendaki gunung. Aktif juga di properti.
Kunjungan saya berakhir di seni instalasi di ruang bawah tanah. Serba hitam. Judulnya sebuah kalimat yang tidak selesai: "Habis gelap ....". Anda sendiri yang akan mengisi titik titik itu –setelah Anda memasuki ruangannya, lalu keluar lagi untuk menatap judul itu.
Tidak semua pengunjung boleh memasukinya. Misalkan Anda punya penyakit ''alergi'' kegelapan, Anda dianjurkan untuk tidak memasukinya. Setelah menyatakan diri sehat silakan masuk: maksimum lima orang. Begitu melewati tirai hitam Anda tidak melihat apa-apa lagi kecuali kegelapan. Karena itu Anda dianjurkan harus berpegangan reeling di dindingnya.
Saya juga pegangan. Tangan kiri berpegangan reeling tangan kanan meraba-raba ke depan --khawatir tiba-tiba ada benda keras di depan hidung. Lalu saya melangkah kecil-kecil takut ada jebakan kaki di depan.
Baca Juga
Saya beringsut maju sambil sesekali membuka mata: masih belum melihat apa-apa. Setelah beberapa langkah kecil, tangan kanan saya mendeteksi ada dinding di depan. Berarti sudah mentok. Diminta duduk di bangku. Saya raba-raba memang ada bangku. Duduk menghadap ke depan. Gelap. Terus diminta menatap ke depan. Lama-lama muncul bayangan samar warna putih. Kian lama kian jelas. Ada dua kotak putih. Atau dua jendela terang. Atau dua wajah pucat. Terserah imajinasi Anda. Selesai.
Setelah ruang dibuat terang ternyata ada cermin di situ. Benda putih tadi sebenarnya hanya satu. Kepala saya pun kebentur dinding sampai menimbulkan suara benturan yang keras. Orang-orang menertawakan saya. Saya kecele ketika ingin mengintip: ada apa di balik cahaya putih itu.
Untuk masuk ''Habis gelap....'' harus bayar: satu dolar. Anda harus membayarnya dengan rupiah –karena ini di Indonesia. Di dinding sebelah kasir ada angka-angka digital live dari bank: di saat Anda membayar itu angka digital menunjukkan kurs dolar sedang di angka berapa.
Inilah karya seni yang –seperti karya seni pada umumnya– mengandung kritik sosial: betapa jatuh nilai rupiah kita. Sang seniman –yang mempunyai karya ini– tidak ingin mendapat uang dari Anda. Dengan membayar pakai cara itu ia hanya ingin Anda menyadari betapa lemahnya mata uang kita. Setelah Anda membayar si kasir memberikan ke Anda tanda mata yang harganya setara dengan 1 dolar Amerika.
Seniman yang menyajikan karya seni ''Habis gelap ....'' ini Anda sudah tahu: Wawan Dalbo. Ia seorang arsitek di Yogya. Juga pemilik sebuah hotel di sana –teman sepedaannya cucu Pak Iskan.
Berita Terkait
ArtSubs Rambat
Palung Langit