Catatan Dahlan Iskan

ArtSubs Rambat

Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.

ArtSubs Rambat

Yang saya juga merasa beruntung: pemrakarsa ArtSubs sedang ada di pameran. Para kolektor lukisan tahu siapa orang itu: Rambat. Ya, namanya satu kata: Rambat. Ups... ada juga istrinya.

Rambat orang Bali. Tinggal di Kerobokan. Aslinya dari Lampung. Lahir dan sekolah sampai SMP di Lampung. Lebih aslinya lagi: Klaten. Orang tuanya kelahiran Klaten. Istrinya orang Gerobokan, Jateng.

"Setelah tamat SMP melanjutkan ke mana?" tanya saya.

"Tidak sekolah lagi," jawabnya. "Bekerja apa saja, termasuk jadi tukang bangunan," tambahnya.

Rambat anak transmigran. Sampai sekarang sang ayah masih jadi petani di Lampung Timur. Rambat berubah nasib setelah merantau ke Bali: juga jadi tukang batu. Lalu punya kenalan orang Bali.

Suatu saat, ketika tidak ada proyek, ia diminta bantu jualan di pasar desa. Yakni pasar yang jualan kerajinan dan benda-benda seni. Ia diminta menjaga kios jualan kacamata kelas harga Rp 10.000-an. Di pasar itulah Rambat mulai kenal benda seni. Juga bertemu banyak turis, termasuk turis asing.

"Saya banyak belajar benda seni. Termasuk lukisan," katanya.

Lama-lama ia tahu cara jualan lukisan. Jadilah pedagang lukisan. Rambat pun tahu mana lukisan berharga dan mana yang tidak. Ia pun kenal banyak pelukis. Kelasnya terus naik. Pelukis tenama pun jadi sahabatnya.

Ini tahun ketiga Rambat menyelenggarakan ArtSubs. Yang terbesar. Tahun lalu nasibnya sial: ketika ArtSubs baru berjalan beberapa hari terjadilah demo besar-besaran. Jakarta terbakar. Seorang ojol tewas dilindas mobil polisi. Merembet ke Surabaya: Gedung Grahadi dibakar. Jaraknya dengan ArtSubs hanya sepelemparan batu. Rambat bergegas menutup pameran. Mengemasinya.

"Mengapa berani berpameran di Surabaya? Bukankah Surabaya tanah gersang untuk kesenian jenis ini?" tanya saya.

"Surabaya bukan lagi gersang, tapi padang pasir," guraunya. "Kalau pameran seperti ini dilaksanakan di Jakarta pasti untung," katanya serius.

"Bagaimana kalau di Yogyakarta?"

"Kalau di Yogya bisa impas".

Saya pun berterima kasih tak terhingga kepadanya: Rambat saya anggap sedang mengairi padang pasir dengan air Bengawan Solo. Siapa tahu lama-lama akan tumbuh benih-benih seni yang subur.

Saking seriusnya pameran ini Rambat sudah tiba di Surabaya satu bulan sebelum pembukaan. Pun orang seperti Nirwan Dewanto, salah satu anggota kurator. Sudah sebulan juga Nirwan menyeleksi mana lukisan yang layak dipajang.

Berita Terkait