Doa Mahjong
Gara-gara ke Paputungan (Disway 17 September 2026: William Paputungan) saya tidak sempat mampir ke pabrik yang sangat top di Manado: pabrik minuman keras Cap Tikus
Oleh: Dahlan Iskan
Gara-gara ke Paputungan (Disway 17 September 2026: William Paputungan) saya tidak sempat mampir ke pabrik yang sangat top di Manado: pabrik minuman keras Cap Tikus. Padahal saya pernah berjanji ke pemiliknya, Johnny Lieke: kalau ke Manado akan mampir ke Cap Tikus.
Yang bisa saya paksakan adalah ke Bukit Doa: tapi sudah tutup. Jalan masuknya sudah diportal. Sudah terlalu gelap: pukul 19.30. Telat setengah jam. Maka kami belok kiri, menanjak lagi ke bukit di atasnya: bukit Makatete Hills. Ada kafe di situ: tutup satu jam lagi.
Masih ada tiga meja yang berisi pengunjung yang sedang minum-minum. Kami pilih ke teras samping yang luas dan tanpa atap. Kami angkat meja dan kursi-kursi ke dekat pagarnya: bisa melihat seluruh kota Manado di bawah sana. Manado di waktu malam.
Saya duduk di kursinya. Bukan untuk menikmati pemandangan tapi untuk menulis: redaksi sudah menunggu tulisan saya yang akan diterbitkan pukul 04.00 keesokan harinya. Ketika menulis dipepet waktu seperti itu kadang muncul omelan otomatis: menulisnya dicepat-cepatkan ketepatan terbit jam 04.00-nya sering diabaikan.
Saya tidak pernah bertanya kenapa terbit telat; kenapa tidak pakai AI saja. Biarlah AI yang disiplin mem-posting-nya pukul 04.00.00.00.
Begitu selesai menulis, pemberitahuan datang: kafe sudah harus tutup. Saya tengok Manado dari atas sekali lagi. Hanya kelihatan gemerlap lampu-lampunya. "Orang lain banyak ke bukit ini pukul 17.00. Menjelang matahari terbenam. Indahnya tak terpermanai," ujar staf di kafe itu.
Dari situ sebenarnya saya ingin memaksakan diri ke Bitung –lewat tol. Sekalian merasakan tol Manado-Bitung peninggalan Presiden Jokowi. Tapi juga sudah terlalu malam.
Akhirnya saya ke NDC. Hotel melati tua di situ kabarnya sudah disulap menjadi hotel baru: Hotel NDC.
Baca Juga
Saya pernah ke Bunaken lewat dermaga NDC ini –Nusantara Diving Club. Masih serba sederhana. Sekarang sudah jadi primadona di Manado. Bukan yang paling ramai tapi paling baru.
Dermaga paling ramai untuk naik kapal ke Bunaken ada di Mega Mal. Teramai kedua di Marina Bay. Dua-duanya di Manado Boulevard –di daerah water front city yang dulunya laut lalu direklamasi. Saya pernah juga ke Bunaken lewat dua dermaga itu.
Benar adanya. NDC telah jadi hotel bintang empat. Gemerlap. Arsitektur lobi masuknya sangat mengesankan. Di balik arsitektur lobi itu ada dua kolam renang dengan fancy: di tengah kolam renang ada wahana permainan anak-anak.
Saya ingin menikmatinya sekejap: minum-minum di kafe pinggir kolam renang itu. Tidak ada pelayan. Saya pun naik ke lobinya yang indah gemerlap. Ada resto besar di situ: ingin makan salad sambil menikmati lobinya. Pilihan saya hanya salad agar tidak terlalu ''berat''. Timbangan badan sudah naik 2 kg tiga bulan terakhir. Apalagi siang sebelumnya saya sudah makan banyak sekali: ikan mas goreng, dabu-dabu, kangkung, dan tumis bunga papaya untuk jatah dua manusia.
"Sudah tutup, Pak. Last order-nya sudah lewat setengah jam lalu," ujar petugas di restoran itu. Ya sudah. Balik ke hotel. Tidur! Pukul empat pagi sudah harus meninggalkan hotel ke bandara. Kembali harus lewat Makassar. Dua jam lebih di Makassar. Tidak bisa apa-apa selain baca-baca di bandara.
Berita Terkait
Doa Mahjong
Anggota Istimewa