Internasional . 14/09/2026, 12:53 WIB

Bukan Hanya Banjir, Pencairan Gletser Himalaya Mengancam Ratusan Juta Warga Asia Selatan

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

Namun, pencairan gletser tidak berarti pasokan air akan terus bertambah. Pada tahap awal, air lelehan dapat meningkatkan debit sungai dan risiko banjir. Setelah gletser kehilangan massa dalam jumlah besar, aliran air justru diperkirakan akan menurun.

ICIMOD memperkirakan banyak cekungan sungai di kawasan Hindu Kush Himalaya dapat mencapai fase peak water pada pertengahan abad ini. Ini adalah titik ketika limpasan air dari gletser mencapai puncaknya sebelum kemudian berkurang karena cadangan es semakin menyusut.

Perubahan tersebut dapat membuat pola air menjadi tidak menentu. Masyarakat mungkin menghadapi banjir yang lebih sering pada musim tertentu, tetapi kekurangan air pada masa lain. Bagi negara dengan populasi besar dan ketergantungan tinggi pada pertanian, situasi ini dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi dan ketahanan pangan.

Polusi Jelaga Mempercepat Pencairan

Tidak seluruh penyebab pencairan gletser Himalaya berasal dari emisi global yang sulit dikendalikan secara lokal. Laporan itu memperkirakan sekitar sepertiga pencairan gletser di Himalaya dipicu karbon hitam atau black carbon.

Karbon hitam merupakan partikel jelaga hasil pembakaran, termasuk dari kiln batu bata di wilayah dataran. Ketika jelaga menempel di permukaan salju dan es, permukaan gletser menjadi lebih gelap dan menyerap lebih banyak panas matahari. Akibatnya, es mencair lebih cepat.

Upaya mengurangi polusi karbon hitam dapat menjadi langkah yang relatif langsung dilakukan negara-negara kawasan. Selain itu, laporan tersebut mendorong perluasan pemantauan gletser, sistem peringatan dini, kesiapan evakuasi, perlindungan infrastruktur rentan, serta pembangunan pariwisata yang tidak hanya mengejar jumlah kunjungan.

Penutup

Pencairan gletser Himalaya menunjukkan bahwa krisis iklim tidak berhenti di puncak gunung. Perubahan pada es, danau glasial, permafrost, dan lereng pegunungan dapat menjalar menjadi banjir, longsor, gangguan air, serta tekanan ekonomi di wilayah yang dihuni ratusan juta orang.

Bukti dari bencana di Sikkim, Uttarakhand, Nepal, dan Tibet memperlihatkan perlunya pemantauan ilmiah yang lebih kuat serta kerja sama lintas negara. Bahaya di Himalaya tidak mengenal batas politik, sehingga perlindungan terhadap kawasan ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga keselamatan manusia, ketersediaan air, dan stabilitas ekonomi Asia Selatan.

Referensi

BBC News — Nepal floods: The Himalayas are melting faster - and India's economy is 'at risk'

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id