Internasional . 14/09/2026, 12:53 WIB
fin.co.id - Pencairan gletser di Pegunungan Himalaya bukan lagi semata persoalan lingkungan di wilayah pegunungan terpencil. Perubahan tersebut berpotensi memicu banjir bandang, longsor, gangguan pasokan air, hingga tekanan terhadap ekonomi yang menopang kehidupan ratusan juta penduduk Asia Selatan.
Ancaman ini kembali menjadi sorotan setelah banjir besar di Nepal dan Tibet menewaskan lebih dari 1.300 orang serta menyebabkan kerusakan luas. Bencana tersebut memperlihatkan bahwa perubahan lingkungan di kawasan Himalaya dapat berdampak langsung kepada masyarakat yang tinggal di lereng gunung maupun wilayah hilir.
Laporan terbaru yang dikutip BBC menyebut massa gletser Himalaya kini menyusut 65 persen lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu. Situasi itu mendorong kawasan Himalaya mendekati titik kritis, ketika pencairan es, danau glasial yang membesar, serta lereng gunung yang makin labil dapat menciptakan bencana berantai.
Saat gletser menyusut, air lelehan dapat terkumpul dan membentuk danau baru atau memperbesar danau glasial yang sudah ada. Danau-danau tersebut kerap ditahan oleh endapan batu, tanah, dan es yang secara alami tidak selalu stabil.
Apabila dinding alami tersebut jebol, air dalam jumlah sangat besar dapat meluncur ke lembah dalam waktu singkat. Fenomena ini dikenal sebagai banjir luapan danau glasial atau glacial lake outburst flood. Dampaknya bisa berupa banjir bandang yang menyeret rumah, jalan, jembatan, pembangkit listrik tenaga air, dan lahan pertanian.
India telah mengalami sejumlah contoh serius. Pada 2023, jebolnya danau glasial di negara bagian Sikkim memicu banjir besar yang menewaskan sedikitnya 70 orang dan merusak infrastruktur penting. Sebelumnya, bencana di Uttarakhand pada 2021 juga menewaskan lebih dari 200 orang setelah banjir besar menerjang lembah Rishiganga dan Dhauliganga.
Pemerintah India menyatakan terdapat 56 danau glasial yang masuk klasifikasi berisiko sangat tinggi. Sementara itu, Central Water Commission memantau 2.485 danau glasial berukuran lebih dari 10 hektare di wilayah cekungan sungai Himalaya India.
Risiko di Himalaya tidak hanya berasal dari danau glasial. Pemanasan suhu juga membuat permafrost, yakni tanah yang selama ini membeku secara permanen, mulai mencair. Ketika lapisan tersebut kehilangan kekuatannya, lereng gunung tinggi dapat menjadi lebih rapuh dan rentan longsor.
Kondisi ini berbahaya karena satu kejadian dapat memicu kejadian lain. Longsor dapat membendung aliran sungai, menghantam danau glasial, atau merusak jalan evakuasi. Banjir yang muncul kemudian dapat mengganggu jaringan listrik, sistem komunikasi, hingga akses bantuan ke desa-desa terpencil.
Direktur Jenderal International Centre for Integrated Mountain Development, Pema Gyamtsho, mengatakan risiko di kawasan tersebut menjadi semakin kompleks. Ia menyebut gletser terus mundur, permafrost dan lereng pegunungan tinggi makin tidak stabil, sementara masyarakat serta infrastruktur di wilayah hilir menghadapi ancaman bencana yang saling berkaitan.
Himalaya dikenal sebagai salah satu sistem penyedia air tawar terbesar di dunia. Pegunungan ini menjadi sumber aliran sungai yang menopang kehidupan di India, Nepal, Bhutan, Pakistan, Bangladesh, serta sebagian wilayah China dan Asia Tenggara.
Air dari kawasan Himalaya mendukung kebutuhan rumah tangga, pertanian, pembangkit listrik tenaga air, industri, dan aktivitas wisata. Laporan tersebut memperkirakan air Himalaya menopang sekitar 20 persen produk domestik bruto India, termasuk melalui produksi gandum, beras, teh, energi hidro, dan ekonomi ziarah.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id