Internasional . 14/09/2026, 12:41 WIB
fin.co.id - Otoritas Filipina memperkirakan proses identifikasi korban kebakaran kapal feri MV June Aster dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan hingga berbulan-bulan. Kebakaran yang terjadi pekan lalu itu telah menewaskan sedikitnya 76 orang, sementara 13 penumpang lainnya masih dinyatakan hilang.
Kapal tersebut sedang berlayar dari Manila menuju Coron, Palawan, ketika api dilaporkan muncul dari ruang kargo. Api kemudian menjalar dengan cepat ke berbagai bagian kapal, membuat banyak penumpang kesulitan menyelamatkan diri.
Richard Allan Mangalip, spesialis forensik dari Kepolisian Nasional Filipina, mengatakan kondisi sebagian besar jenazah menjadi tantangan utama dalam proses identifikasi. Banyak korban ditemukan dalam keadaan hangus setelah terjebak di dalam kapal.
“Kami berusaha sebaik mungkin untuk mengumpulkan tanda-tanda pengenal yang mungkin,” kata Mangalip kepada wartawan.
Namun, ia menegaskan bahwa pihak berwenang belum dapat memastikan durasi pemeriksaan. Jumlah sampel yang harus diperiksa serta kondisi jenazah yang rusak akibat panas membuat proses ini tidak dapat dilakukan dengan cepat.
Keluarga korban diminta membantu aparat melalui penyerahan barang pribadi milik penumpang serta sampel DNA. Informasi tersebut diperlukan untuk mencocokkan identitas korban yang sulit dikenali secara visual.
Dalam proses forensik bencana, identifikasi umumnya dapat dilakukan melalui sejumlah metode, antara lain pemeriksaan DNA, catatan gigi, sidik jari, serta ciri fisik tertentu. Akan tetapi, paparan api dengan suhu tinggi dan asap beracun dapat merusak jaringan tubuh serta menghilangkan sebagian tanda pengenal yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan awal.
Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan DNA menjadi sangat penting. Metode tersebut dapat membandingkan profil genetik dari jenazah dengan sampel anggota keluarga biologis. Meski memiliki tingkat ketelitian tinggi, prosesnya membutuhkan waktu karena sampel harus dikumpulkan, diuji, lalu diverifikasi sebelum identitas korban diumumkan secara resmi.
Menurut otoritas setempat, beberapa jenazah ditemukan berkelompok di bagian tertentu kapal. Temuan itu menggambarkan kepanikan yang terjadi ketika api menyebar, sementara para penumpang berusaha mencari jalan keluar dari kapal yang terbakar.
Upaya penyelamatan dan pemeriksaan di MV June Aster juga terhambat karena api terus menyala selama lebih dari satu hari. Panas tinggi serta asap beracun membuat tim penyelamat baru dapat naik ke kapal lebih dari 40 jam setelah insiden terjadi.
Sebanyak 43 orang berhasil selamat dari tragedi tersebut. Sejumlah penyintas mengaku mendengar suara ledakan sebelum melihat asap dan api. Kepanikan kemudian terjadi ketika kebakaran meluas di dalam kapal.
Seorang penyintas mengatakan dirinya sempat terjatuh dan terinjak penumpang lain sebelum akhirnya melompat ke laut. Ia kemudian diselamatkan beberapa jam setelah berada di perairan.
MV June Aster membawa penumpang dengan beragam tujuan. Selain wisatawan yang hendak menuju Coron, sejumlah orang menggunakan kapal itu untuk bekerja atau mengunjungi keluarga. Coron dikenal sebagai salah satu destinasi wisata penting di Palawan, terutama karena pantai dan lokasi penyelaman bangkai kapal dari Perang Dunia II.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id