News

Asal-usul Gunung Anak Krakatau dan Proses Terbentuknya

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling dikenal di Indonesia. Gunung ini berdiri di tengah Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra

Asal-usul Gunung Anak Krakatau dan Proses Terbentuknya
Gunung Anak Krakatau, Ilustrasi: DALL·E 3

Abu dan pecahan batuan dapat mengendap di sekitar kawah, sedangkan lava yang mendingin membentuk lapisan batuan baru. Akan tetapi, tidak semua material akan bertahan. Sebagiannya dapat terbawa angin, jatuh ke laut, terkikis gelombang, atau longsor akibat ketidakstabilan lereng.

Perubahan Anak Krakatau kini dapat diamati menggunakan citra satelit, pemetaan dasar laut, sensor seismik, alat pengukur deformasi, kamera termal, dan pemantauan gas. Bukti modern tersebut menunjukkan bahwa pembentukan sebuah gunung api bukan peristiwa singkat, tetapi proses panjang yang terdiri atas pertumbuhan dan penghancuran berulang.

Penutup

Nama Gunung Anak Krakatau mencerminkan sejarah kelahirannya sebagai gunung api baru di dalam kaldera Krakatau. Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar kompleks gunung lama, tetapi sistem magmanya tetap aktif. Mulai 1927, erupsi bawah laut membangun daratan baru yang mampu bertahan di atas permukaan laut pada 1929.

Keruntuhan pada 2018 dan rangkaian erupsi September 2026 memperlihatkan bahwa proses tersebut masih berlangsung. Anak Krakatau dapat bertumbuh karena penumpukan material baru, tetapi juga dapat berubah akibat ledakan, erosi, dan longsoran lereng.

Persebaran abu hingga Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan kawasan lain memperlihatkan bahwa aktivitas satu gunung api dapat memengaruhi wilayah yang sangat luas. Dampaknya bukan hanya dirasakan di sekitar kawah, tetapi juga pada kesehatan masyarakat, ruang udara, dan operasional penerbangan.

Dengan pemantauan ilmiah modern, perubahan Gunung Anak Krakatau dapat diamati secara lebih cepat dan akurat. Gunung ini memberikan kesempatan langka untuk mempelajari bagaimana sebuah gunung api lahir dari laut, tumbuh, mengalami keruntuhan, kemudian kembali membangun dirinya melalui aktivitas erupsi.

Referensi

Smithsonian Institution Global Volcanism Program: Krakatau

USGS Volcano Watch: Mixing Magmas at Krakatau

International Tsunami Information Center: History of the Krakatau Tsunami

Nature Communications: Submarine Landslide Megablocks Show Half of Anak Krakatau Island Failed on December 22, 2018

Geoscience Letters: Reconstructing the Anak Krakatau Flank Collapse That Caused the December 2018 Indonesian Tsunami

BMKG: BMKG Terus Pantau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

BNPB: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Berlanjut, Empat Bandara Ditutup Sementara akibat Sebaran Abu Vulkanik

Berita Terkait