News

Asal-usul Gunung Anak Krakatau dan Proses Terbentuknya

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling dikenal di Indonesia. Gunung ini berdiri di tengah Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra

Asal-usul Gunung Anak Krakatau dan Proses Terbentuknya
Gunung Anak Krakatau, Ilustrasi: DALL·E 3

Sementara itu, abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,2 kilometer bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang dilintasi meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta 50.000 kaki ke arah barat,” kata Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.

Namun, terdeteksinya abu di ruang udara suatu wilayah tidak selalu berarti seluruh kota di bawahnya mengalami hujan abu dengan ketebalan yang sama. Sebagian abu dapat berada pada lapisan atmosfer tinggi, sedangkan material yang lebih berat umumnya jatuh lebih dekat dengan sumber erupsi.

Arah persebarannya juga dapat berubah dalam waktu relatif singkat karena dipengaruhi arah dan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda. Karena itu, peta sebaran abu harus dibaca berdasarkan waktu pengamatan tertentu, bukan dianggap sebagai kondisi tetap.

Wilayah Daratan yang Mengalami Dampak Abu

Dampak abu di permukaan paling jelas dilaporkan dari wilayah Banten yang relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Di Kabupaten Serang, abu vulkanik berdampak pada tujuh kecamatan, yaitu Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros, dan Padarincang.

Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka termasuk wilayah yang mengalami dampak. Laporan suara gemuruh atau getaran juga datang dari Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput.

Pemantauan di Lampung mencakup Kecamatan Punduh Pedada dan Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan. Di Kabupaten Tanggamus, pengawasan dilakukan di Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung.

Sejumlah desa di Pematang Sawa dan Cukuh Balak dilaporkan terdampak, bersama beberapa kelurahan di Kota Agung. Hingga laporan resmi pada 6 September 2026, belum terdapat korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang dikaitkan secara langsung dengan erupsi tersebut. Dampak material masih didata.

Sementara itu, wilayah metropolitan seperti Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bandung menghadapi dampak terutama pada kualitas ruang udara serta operasional penerbangan. Keberadaan abu pada jalur penerbangan membuat sejumlah bandara harus ditutup sementara sebagai tindakan keselamatan.

Delapan Bandara Terdampak Persebaran Abu

Persebaran abu Anak Krakatau menyebabkan penutupan sementara delapan bandara pada 6 September 2026. Bandara yang terdampak meliputi Soekarno-Hatta di Tangerang, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Radin Inten II di Lampung, Husein Sastranegara di Bandung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatra Selatan.

Berdasarkan pemantauan Kementerian Perhubungan hingga 6 September 2026 pukul 17.06 WIB, sebanyak 1.558 penerbangan tertunda dan sekitar 170.000 penumpang tertahan. Khusus di Bandara Soekarno-Hatta, tercatat 963 penerbangan terdampak.

Penutupan bandara dilakukan karena partikel abu dapat membahayakan pesawat. Abu vulkanik tidak sama dengan abu hasil pembakaran biasa. Material ini mengandung pecahan batuan dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil.

Jika masuk ke mesin jet, partikel tersebut dapat meleleh akibat suhu tinggi. Material yang meleleh kemudian bisa menempel dan mengeras pada komponen mesin, mengganggu aliran udara, serta berpotensi menyebabkan kehilangan tenaga. Abu juga dapat mengikis kaca kokpit, merusak sensor, dan mengganggu sistem pesawat.

Berita Terkait