Asal-usul Gunung Anak Krakatau dan Proses Terbentuknya
Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling dikenal di Indonesia. Gunung ini berdiri di tengah Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra
Kelahiran Anak Krakatau dari Dasar Laut
Setelah letusan besar Krakatau, kawasan kaldera relatif tenang selama beberapa dasawarsa. Aktivitas erupsi baru terlihat kembali pada 1927 dari dasar laut di dalam kaldera, di sekitar lokasi antara bekas kerucut Danan dan Perbuwatan.
Ketika magma panas mencapai dasar laut, interaksinya dengan air menghasilkan ledakan uap dan lontaran material vulkanik. Abu, pasir vulkanik, batu apung, dan pecahan batuan mulai menumpuk di sekitar pusat erupsi.
Pada tahap awal, pulau kecil yang terbentuk beberapa kali dihancurkan kembali oleh gelombang. Material vulkanik yang masih lepas belum cukup kuat untuk menahan erosi laut.
Erupsi yang terus berulang kemudian menambahkan semakin banyak material. Aliran lava yang telah mendingin membantu memperkuat daratan vulkanik tersebut. Pada 1929, daratan baru akhirnya dapat bertahan secara permanen di atas permukaan laut.
Daratan itulah yang kemudian berkembang menjadi Gunung Anak Krakatau. Dengan demikian, 1927 menandai awal erupsi pembentukannya, sedangkan 1929 menjadi tonggak munculnya daratan yang mampu bertahan di atas laut.
Mengapa Dinamakan Anak Krakatau?
Nama Anak Krakatau diberikan karena gunung api tersebut lahir setelah kehancuran Krakatau dan tumbuh di dalam kaldera yang ditinggalkan oleh letusan 1883.
Smithsonian Global Volcanism Program menyebutnya sebagai “Child of Krakatau”, yang berarti “anak dari Krakatau”. Sebutan tersebut menggambarkan hubungan geologis antara gunung baru dengan kompleks Krakatau sebelumnya.
Gunung Anak Krakatau bukan bagian lama yang sekadar muncul kembali dari bawah laut. Sebagian besar tubuhnya dibangun oleh material baru yang dikeluarkan melalui erupsi setelah 1927.
Oleh karena itu, penyebutan yang tepat adalah Gunung Anak Krakatau. Jika kata “Gunung” tidak digunakan, namanya cukup ditulis Anak Krakatau. Bentuk “Anak Gunung Krakatau” tidak tepat karena susunan tersebut tidak menunjukkan nama geografis resminya.
Bagaimana Tubuh Gunung Anak Krakatau Terbentuk?
Tubuh Anak Krakatau berkembang melalui proses yang terjadi berulang kali. Magma naik menuju permukaan, kemudian dikeluarkan dalam bentuk lava, abu, pasir, dan pecahan batuan vulkanik.
Baca Juga
Material yang terlontar jatuh dan menumpuk di sekitar kawah. Lava yang mengalir kemudian mendingin dan mengeras. Gabungan lapisan material lepas dan batuan lava tersebut perlahan-lahan membangun kerucut gunung.
Pertumbuhan gunung api tidak selalu berlangsung secara stabil. Pada satu periode, Anak Krakatau dapat bertambah besar dan tinggi. Pada periode lain, sebagian tubuhnya dapat mengalami erosi, longsor, ledakan, atau keruntuhan.