Lifestyle . 06/09/2026, 12:19 WIB
Mitch Prinstein, profesor psikologi dari University of North Carolina, menjelaskan bahwa pengalaman ketika seseorang berusia sekitar 14 tahun dapat menjadi semacam pola untuk melihat dunia.
“Kita memanggil kembali pengalaman ketika berusia 14 tahun dan menggunakannya sebagai semacam pola untuk memahami dunia,” kata Prinstein.
Secara ilmiah, otak remaja masih berada dalam proses perkembangan. Sistem yang berhubungan dengan emosi, penghargaan, dan penerimaan sosial berkembang dengan cepat. Sementara itu, korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian diri, perencanaan, dan penilaian risiko belum sepenuhnya matang.
Kondisi tersebut membuat remaja cenderung lebih sensitif terhadap perhatian, penolakan, dan penilaian teman sebaya. Mendapatkan pengakuan dari kelompok dapat terasa sangat menyenangkan, sedangkan dikucilkan dapat memicu tekanan emosional yang mendalam.
Pengalaman yang disertai emosi kuat biasanya lebih mudah disimpan dalam memori jangka panjang. Itulah sebabnya seseorang dapat mengingat secara terperinci kejadian memalukan di depan kelas, pertengkaran dengan teman, atau momen ketika dirinya diterima oleh kelompok tertentu.
Kenangan tersebut juga dapat diperkuat melalui pengulangan. Setiap kali seseorang menceritakan kembali pengalaman masa SMA, melihat foto lama, atau bertemu teman sekolah, ingatan itu diaktifkan kembali. Proses ini membuat sebagian kenangan tetap terasa hidup meskipun peristiwanya telah lama berlalu.
Psikolog Lucy Foulkes dari University of Oxford menjelaskan bahwa lingkungan sekolah mempunyai intensitas yang jarang ditemukan dalam kehidupan dewasa. Remaja bertemu dengan orang-orang yang sama hampir setiap hari selama bertahun-tahun.
Menurut Foulkes, pola seperti itu hanya ditemukan pada sedikit lingkungan dewasa, misalnya militer atau penjara. Seseorang sulit menghindari teman yang tidak disukai karena mereka tetap berada dalam sekolah, lorong, atau ruang kelas yang sama.
“Ini merupakan fenomena manusia bahwa sebagian orang memiliki kekuatan dan dominasi sosial lebih besar daripada orang lain. Namun, fenomena tersebut terasa sangat kuat pada masa remaja,” jelas Foulkes.
Di lingkungan yang relatif tertutup tersebut, reputasi seseorang bisa menyebar dengan cepat. Kesalahan kecil dapat terus diingat, sedangkan label sosial sulit diubah. Kondisi ini menjelaskan mengapa konflik, perundungan, dan penolakan di sekolah dapat terasa seperti persoalan yang sangat besar bagi remaja.
Cara seseorang diperlakukan ketika remaja dapat memengaruhi perilakunya ketika dewasa. Individu yang sering diterima dan didukung oleh teman sebaya cenderung mengembangkan kepercayaan sosial yang lebih baik.
Sebaliknya, orang yang pernah mengalami penolakan mungkin lebih mudah mencurigai niat orang lain. Komentar yang sebenarnya netral dapat dianggap sebagai penghinaan karena otak terbiasa mencari tanda-tanda ancaman sosial.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id