News . 04/09/2026, 19:29 WIB

Menjaga Ruang Digital Berpancasila: Benteng Utama Indonesia Hadapi Cognitive Warfare

Penulis : Sahroni
Editor : Sahroni

Dari ranah legislatif, evaluasi efektivitas program ideologi tidak boleh lagi didasarkan pada sekadar kuantitas kegiatan sosialisasi atau seminar. Ukuran keberhasilan wajib dihitung berdasarkan dampak riil yang terukur di tengah masyarakat.

Untuk mendukung keberlanjutan strategi tersebut, diperlukan sinergi erat antara BPIP, kementerian pendidikan, kementerian komunikasi, dan aparat penegak hukum.

Pengembangan Indeks Ketahanan Ideologi Daerah juga digagas sebagai sarana pemetaan kondisi toleransi dan tingkat kohesi sosial secara berkala di tiap wilayah, sehingga bentuk intervensi kebijakan yang diambil tepat sasaran.

Pancasila sebagai Kompas Etika di Dunia Maya

Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (generative AI), pergeseran algoritma, hingga ancaman manipulasi digital seperti deepfake menambah kompleksitas interaksi di internet.

Akademisi Dr. Anton Zulkarnain Sianipar, M.Pd. menyampaikan bahwa kondisi ini kerap memicu kebisingan digital berupa echo chamber, perundungan siber, hingga merosotnya tingkat kesantunan berinteraksi.

Oleh karena itu, lima sila dalam Pancasila harus ditransformasikan menjadi kompas etika digital secara nyata:

  • Integritas Moral: Menjaga kejujuran dan etika meskipun beraktivitas di balik akun anonim.
  • Kemanusiaan dan Kesantunan: Menolak perundungan siber, menghentikan penghakiman sepihak, dan menjunjung tinggi martabat sesama pengguna internet.
  • Persatuan: Menolak provokasi bermuatan SARA, meredam gesekan akibat perbedaaan, dan merawat toleransi.
  • Demokrasi Beradab: Mengedepankan budaya musyawarah digital yang santun, rasional, serta berbasis data valid.
  • Keadilan Sosial: Mewujudkan gotong royong digital, seperti mempromosikan produk UMKM lokal, menggalang aksi kemanusiaan, dan memperluas akses literasi digital.

Menjadi Warga Digital Ber-Pancasila yang Kritis dan Beradab

Edukasi teknologi bagi masyarakat harus melangkah lebih jauh dari sekadar kemampuan teknis mengoperasikan perangkat.

Masyarakat perlu dibekali kemampuan literasi kritis untuk memeriksa keabsahan bukti, mendeteksi muatan emosional konten, serta memilah manipulasi media berbasis AI.

Langkah praktis sederhana yang dapat diterapkan setiap individu mencakup:

  • Membiasakan saring sebelum sharing.
  • Mempertimbangkan aspek manfaat dan kesantunan sebelum menuliskan komentar.
  • Memperbanyak penyebaran konten positif yang menumbuhkan optimisme publik.

Penguatan ideologi ini mensyaratkan kolaborasi berbasis riset melalui tahapan diagnosis, intervensi, evaluasi, dan adaptasi secara berkelanjutan. Pada akhirnya, kemajuan teknologi harus diimbangi oleh keadaban emosional dan karakter luhur.

Masyarakat Indonesia diharapkan mampu tumbuh menjadi warga digital yang tidak hanya pandai mengoperasikan teknologi, tetapi juga beradab, berperspektif kritis, serta memegang teguh Pancasila dalam setiap keputusan dan tindakan di dunia nyata maupun maya.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id