News . 04/09/2026, 19:22 WIB

Transformasi Digital Beretika: Menjadikan Teknologi Alat Bantu, Bukan Pengendali Manusia

Penulis : Sahroni
Editor : Sahroni

fin.co.id - Kehadiran teknologi digital dan internet telah mengubah lanskap kehidupan masyarakat secara drastis, mulai dari pola pendidikan hingga interaksi sosial harian.

Namun, di balik peluang besar yang ditawarkannya, terdapat tantangan serius terkait keamanan, etika, dan keselamatan perkembangan fisik serta mental generasi muda.

Membangun ekosistem digital yang sehat membutuhkan langkah konkret yang menghubungkan regulasi ketat, transformasi pendidikan, dan pendampingan keluarga.

Sanksi Tegas dan Tata Kelola Digital untuk Kedaulatan Bangsa

Ruang siber saat ini didominasi oleh ekonomi atensi yang dirancang untuk memaksimalkan retensi pengguna.

Tanpa intervensi, mekanisme algoritma ini berisiko mengeksploitasi kapasitas kognitif anak-anak.

Anggota DPR RI, Romy Soekarno menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lagi memakai pendekatan reaktif dalam menghadapi ancaman siber seperti kecanduan layar, perundungan siber, hingga eksploitasi data.

Melalui penegakan aturan seperti PP TUNAS (Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak), negara hadir untuk memperkuat kedaulatan digital.

Regulasi ini mendesak penyelenggara sistem elektronik (PSE) menerapkan sistem verifikasi usia (Age-Assurance System) yang valid, menggantikan metode self-declaration yang rentan dimanipulasi, serta mengintegrasikan prinsip Safety by Design.

Platform digital diwajibkan menyajikan akun privat secara baku, menonaktifkan pesan otomatis dari asing, dan menghapus fitur infinite scroll.

Bagi platform yang lalai, sanksi berjenjang menanti, mulai dari denda berbasis persentase pendapatan hingga pemblokiran akses nasional.

Transformasi Pendidikan: Menjadikan AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Pikir

Di sektor formal, digitalisasi bukan sekadar memindahkan papan tulis ke layar monitor. Akademisi, Dr. Verdi Yasin menilai transformasi digital adalah perubahan fundamental dalam cara belajar, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.

Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus disikapi secara bijak. AI idealnya ditempatkan sebagai kawan pemantik ide atau penyusun struktur belajar, bukan alat pemintas yang mengikis kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas karya.

Pendidikan masa depan perlu berfokus pada formula Learn, Practice, Create, Collaborate, dan Reflect guna memperkuat kompetensi 4C (Critical Thinking, Creativity, Communication, Collaboration).

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id