Catatan Dahlan Iskan . 02/09/2026, 05:58 WIB

Hujan Salat

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Oleh: Dahlan Iskan

Manusia Indonesia kelihatannya sudah tidak berdaya menghadapi kebakaran hutan dan kekeringan. Mereka pun pilih bersandar kepada Tuhan.

Di Jakarta sekitar 3.000 orang melakukan salat minta hujan: salat Istisqa'. Di halaman Masjid Al Azhar Kebayoran Baru, pukul 07.00 Senin lalu.

Tidak disebutkan: mereka minta agar hujan diturunkan di mana. Tuhan tentu mahatahu skala prioritas. Terserah Tuhan saja mau diturunkan di mana.

Islam memang mengajarkan salat minta hujan. Pun agama-agama sebelum Islam. Kalau sudah tidak bisa menemukan jalan keluar mereka menyerah kepada Tuhan masing-masing.

Mungkin karena Tiongkok tidak punya Tuhan mereka tidak bisa menyerahkan problem kekeringan kepada selain diri mereka sendiri.

Anda sudah tahu: Tiongkok kini menjadi negara yang paling banyak membuat hujan buatan. Tiongkok terus mengubah kawasan kering di Barat Laut menjadi daerah pertanian.

Lantaran sering membuat hujan Tiongkok memiliki banyak tenaga ahli di bidang perubahan cuaca. Anda masih ingat: di Olimpiade Beijing 2008, Tiongkok melalukan rekayasa cuaca besar-besaran. Bukan bikin hujan buatan, tapi merekayasa cuaca agar tidak terjadi hujan selama olimpiade.

Tapi gudang ilmuwan cuaca tetaplah Amerika Serikat. Di Amerikalah ditemukan ilmu membuat hujan. Anda sudah tahu tokohnya: Vincent J. Schaefer. Ahli kimia dari New York.

Dalam ilmu cuaca ia berteman dan bersaing dengan Irving Langmuir yang sama-sama aktif di laboratoium teknologi milik General Electric.

Irvin kemudian mendapat Nobel Kimia di tahun 1932. Irvinlah yang pertama bikin hujan buatan. Niat awalnya bukan membuat hujan tapi ingin memahami cuaca. Termasuk meneliti mengapa ada hujan, dari mana datangnya hujan, dan faktor apa saja yang bisa menyebabkan hujan.

Ilmuwan memang tidak mengenal istilah ”hujan turun dari langit” --karena di langit tidak ada benih-benih hujan. Ilmuwan kian ahli mengetahui kapan akan ada hujan, seberapa lebat dan di daerah mana saja.

Hujan buatan sendiri kian mudah dilakukan setelah Irvin menemukan bahan baru untuk membuat hujan: perak iodida. Tahun 1940-an. Itu campuran perak dan yodium.

Awalnya Irvin dan tim mencari tahu: campuran kimia apa saja yang bisa membentuk kristal yang mirip dengan kristal es. Kalau hujan terjadi karena ada kristal es di awan, berarti benda yang mirip kristal es bisa menyebabkan hujan.

Jadi kalau Anda lihat mendung di langit tapi tidak terjadi hujan itu karena di dalam mendung tersebut tidak terbentuk kristal es.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id