Internasional . 04/09/2026, 11:29 WIB

Ledakan Pusat Data AI di Australia Picu Kekhawatiran Krisis Air dan Listrik

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

Air Bersih Menjadi Persoalan Serius

Selain listrik, pusat data membutuhkan air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan. Server menghasilkan panas tinggi ketika memproses data, terutama untuk pelatihan model AI yang memakai ribuan chip secara bersamaan.

Dalam skala besar, sebuah pusat data dapat memakai hingga 40 juta liter air per hari. Jumlah tersebut disebut setara dengan konsumsi sekitar 80.000 rumah tangga. Angka ini menjadi sangat sensitif di Australia, negara yang kerap menghadapi kekeringan, gelombang panas, dan tekanan terhadap cadangan air.

Sydney Water memperkirakan pusat data dapat menyerap hingga 25 persen pasokan air minum Sydney pada 2035 jika pembangunan berlangsung sesuai proyeksi. Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah harus mencari sumber air tambahan, termasuk melalui desalinasi air laut yang biayanya lebih mahal.

Beban biaya tersebut dikhawatirkan pada akhirnya ikut dirasakan masyarakat melalui tarif air yang lebih tinggi. Karena itu, kelompok lingkungan meminta setiap proyek pusat data diwajibkan menggunakan teknologi pendinginan yang lebih hemat air, memanfaatkan air daur ulang, atau membangun infrastruktur air sendiri.

Pemerintah Australia telah mengumumkan rencana aturan bagi pusat data berskala besar. Aturan itu akan mewajibkan proyek baru membantu menjamin pasokan listrik, membatasi penggunaan air, dan membiayai tambahan infrastruktur air yang diperlukan. Namun, kebijakan tersebut direncanakan berlaku bagi proposal baru, bukan proyek yang sudah dibangun atau sedang berjalan.

Warga Khawatir Kehilangan Ruang Hidup dan Pekerjaan

Dampak pusat data juga terasa langsung di sekitar kawasan industri dan permukiman. Warga Lane Cove, Sydney, mengeluhkan suara dengung konstan dari fasilitas yang beroperasi dekat rumah mereka. Beberapa proyek baru bahkan direncanakan tidak jauh dari sekolah dan hunian warga.

Pembangunan pusat data memang dapat menciptakan banyak pekerjaan saat konstruksi berlangsung. Akan tetapi, setelah beroperasi, fasilitas semacam ini umumnya membutuhkan pekerja jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah tenaga kerja selama masa pembangunan.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa bisnis lokal dapat terdorong keluar dari kawasan industri, sementara manfaat pekerjaan jangka panjang tidak sebanding dengan dampak terhadap lingkungan dan komunitas.

Ledakan pusat data AI memperlihatkan dilema besar yang sedang dihadapi Australia. Infrastruktur ini dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan fondasi kedaulatan teknologi, tetapi pembangunan tanpa pengaturan ketat berisiko membebani listrik, menguras air bersih, serta menghambat agenda pengurangan emisi.

Penutup

Pusat data AI menjadi bagian penting dari perkembangan teknologi modern, tetapi kebutuhan komputasi yang besar harus diimbangi dengan bukti ilmiah, perencanaan energi yang matang, dan pengelolaan air yang bertanggung jawab. Berbagai studi tentang jejak lingkungan komputasi menunjukkan bahwa AI tidak hanya bekerja di ruang digital, melainkan juga bergantung pada sumber daya fisik berupa listrik, air, lahan, dan material.

Australia kini menghadapi ujian penting: memanfaatkan peluang ekonomi AI tanpa membiarkan kebutuhan teknologi mengorbankan ketahanan air, stabilitas listrik, dan kualitas hidup masyarakat. Keberhasilan negara tersebut akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat energi terbarukan, penyimpanan listrik, pendinginan hemat air, serta aturan transparansi diterapkan dalam industri pusat data.

Referensi Internasional:

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id