Ratusan Pekerja Diduga Terjebak di Terowongan PLTA Nepal, Operasi Penyelamatan Dikebut
Operasi penyelamatan korban banjir besar di Nepal terus ditingkatkan setelah ratusan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air atau PLTA belum ditemukan
Sita Pandey menjadi salah satu orang yang masih menunggu kabar mengenai suaminya, Jiblal Adhikari, yang diyakini berada di lokasi PLTA Trishuli-3A saat banjir menerjang.
Pandey mengatakan dirinya masih menyimpan harapan karena terdapat sistem oksigen di dalam terowongan.
"Saya masih memiliki 50 persen harapan bahwa dia masih hidup karena ada sistem oksigen di dalam," katanya kepada media Nepal, Kantipur.
Namun, ia mengakui harapan tersebut semakin berkurang seiring berjalannya waktu.
"Setiap jam yang berlalu, harapan itu menjadi semakin tipis," ujarnya.
Keluarga korban lainnya juga mendesak agar operasi berlangsung lebih cepat.
Jiban Khadka, yang memiliki kerabat hilang di lokasi tersebut, mengatakan setiap detik sangat berarti bagi orang-orang yang mungkin masih terjebak.
"Semakin lama waktunya, semakin banyak harapan kami yang hilang. Operasi ini harus bergerak jauh lebih cepat karena setiap detik sangat berarti bagi kami," katanya.
Udara Dipompa untuk Membantu Korban Bertahan
Pemompaan udara menjadi salah satu bagian penting dalam operasi penyelamatan di terowongan.
Dalam kecelakaan atau bencana yang melibatkan ruang tertutup bawah tanah, keberadaan kantong udara dapat membuat seseorang bertahan lebih lama dibandingkan apabila seluruh ruangan terisi air atau lumpur.
Baca Juga
Sistem ventilasi yang masih berfungsi juga dapat menjadi faktor penting.
Namun, kondisi sebenarnya di dalam terowongan Trishuli-3A belum diketahui secara menyeluruh.
Material lumpur, batu, air, hingga kerusakan struktur dapat menghalangi akses tim penyelamat.
Petugas juga harus berhati-hati karena membuka akses secara agresif pada terowongan yang telah mengalami kerusakan dapat meningkatkan risiko keruntuhan tambahan.