Ragam . 30/08/2026, 08:38 WIB
Pengembangan PM-AAS dilakukan BRMP secara intensif sejak awal 2025 melalui serangkaian uji terap di berbagai lokasi dan musim tanam. Sebelum diformulasikan sebagai satu paket teknologi dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 8–9 atau siap diterapkan, PM-AAS terlebih dahulu diuji pada berbagai kondisi lahan.
Dari pengujian pendahuluan, produktivitas 10 ton per hektare berhasil dicapai selama dua musim berturut-turut di Soppeng, Sulawesi Selatan. Pengujian selanjutnya diperluas ke berbagai ekosistem, termasuk lahan irigasi teknis, irigasi nonteknis dan lahan rawa.
Capaian tersebut menjadi penting karena produktivitas padi nasional selama sekitar 20 tahun relatif stagnan pada kisaran 5,3 ton GKG per hektare, atau setara sekitar 6,3 ton GKP per hektare.
Mentan Amran menegaskan bahwa peningkatan produktivitas harus bermuara pada kesejahteraan petani. Karena itu, pertanian modern tidak cukup hanya menghasilkan produksi yang tinggi, tetapi juga harus mampu menekan biaya usaha tani dan meningkatkan pendapatan petani.
“Kalau disiplin, produksinya tidak akan di bawah delapan ton. Bisa 10 ton, bahkan 12 ton. Kalau sawahnya satu hektare, rata-rata pendapatannya bisa sekitar Rp16,3 juta per bulan. Artinya di atas gaji pegawai,” ujar Mentan Amran.
Penerapan PM-AAS secara lebih luas dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan produktivitas padi nasional. Dengan menggabungkan teknologi, efisiensi usaha tani dan pendampingan petani, modernisasi pertanian diharapkan tidak hanya memperkuat swasembada beras, tetapi juga membangun sistem produksi pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id