Ragam . 30/08/2026, 08:38 WIB

Mentan Amran Dorong Pertanian Modern, Panen PM-AAS di Berbagai Daerah Tembus 10 Ton per Hektare

Penulis : AdminFIN
Editor : AdminFIN

Pengalaman serupa dirasakan petani Sidrap lainnya, Anas. Ia melihat perbedaan pertumbuhan tanaman yang lebih rapat dan hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

“Kalau tampilan padinya bagus sekali, tanamannya terlalu rapat, dan hasilnya terlalu banyak juga. Saya punya 50 are, hasilnya hampir 30 karung. Dulu kalau bukan 23, 24. Alhamdulillah bagus sekali hasilnya,” ungkapnya.

Petani Sidrap lainnya, Nurdin, juga mengaku puas dengan hasil yang diperoleh melalui penerapan PM-AAS. Ia menilai hasil panen varietas Inpari 48 yang ditanamnya mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya.

“Kalau hasil sekarang memuaskan. Kalau sekarang yang Inpari 48 hasilnya sampai 143. Kalau dulu 120, ada kalanya di bawah 120. Padinya juga berat. Alhamdulillah hasilnya sekarang memuaskan,” ujarnya.

Nurdin berharap penerapan PM-AAS dapat diperluas sehingga semakin banyak petani di Indonesia memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.

“Mudah-mudahan adanya program pemerintah PM-AAS ini, petani-petani di seluruh Indonesia bisa mengikuti,” katanya.

Efisiensi juga dirasakan petani di wilayah lain. Abdul Rohim, petani asal Kampung Candarajaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke mengatakan penggunaan metode tanam menggunakan drum seeder atau paralon membuat proses tanam jauh lebih efisien dibandingkan metode tanam pindah.

Menurutnya, biaya tanam yang sebelumnya mencapai sekitar Rp3 juta per hektare kini turun menjadi sekitar Rp600 ribu per hektare.

“Kalau sebelumnya biaya tanam sekitar Rp3 juta per hektare, sekarang cukup sekitar Rp600 ribu. Jadi bisa menghemat sekitar Rp2,4 juta per hektare. Dari pertumbuhannya juga kelihatan lebih sehat dan anakannya lebih banyak,” ujarnya.

Sementara itu, Angga Dwi Hadianto petani lainnya menilai penggunaan metode tanam baru yang dipadukan dengan pemanfaatan drone membuat pekerjaan di lapangan lebih cepat dan menghemat tenaga kerja.

“Dari pertumbuhannya sudah terlihat lebih bagus dibanding cara lama. Kami juga lebih hemat tenaga karena penyemprotan menggunakan drone. Petani di sini optimistis hasilnya akan lebih baik,” pungkasnya.

Berbagai pengalaman di tingkat petani dan daerah tersebut kemudian diperkuat oleh hasil pengujian multi-lokasi yang dilakukan BRMP. Pada musim tanam pertama 2026 (MK-1), BRMP melaksanakan uji PM-AAS pada total luasan sekitar 2.000 hektare di 15 provinsi, berupa demfarm sekurang-kurangnya 100 hektare di setiap provinsi.

Dari 18 kabupaten di 13 provinsi yang telah memasuki masa panen, hasil ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas rata-rata PM-AAS mencapai 10,34 ton GKP per hektare.

Angka tersebut meningkat dari rata-rata 6,32 ton GKP per hektare pada praktik non-PM-AAS, atau terjadi tambahan sekitar 4,02 ton per hektare. Dengan demikian, produktivitas meningkat 63,46 persen.

Bahkan, sebanyak 12 dari 18 lokasi atau 66,7 persen telah mencapai produktivitas minimal 10 ton GKP per hektare. Sementara di berbagai lokasi lainnya, produktivitas PM-AAS telah berada pada kisaran 9–11 ton GKP per hektare.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id