Catatan Dahlan Iskan . 28/08/2026, 05:53 WIB

La Hua

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Pokoknya mereka dikumpulkan sampai berhasil diyakinkan untuk mau memilih calon yang diinginkan. Setelah berhasil, peserta itu masih harus dijaga, diawasi, diintip, dibuntuti: jangan sampai berkhianat.

"Sebenarnya yang membuat ruwet muktamar ini ya hanya tiga orang itu. Mereka dalangnya. Dari muktamar ke muktamar," ujar seorang Gus muda tamatan luar negeri yang bersikap netral.

Demikian juga tokoh NU yang juga kiai terkemuka, putra salah satu pendiri NU, Kiai Asep Saifuddin Chalim. Kiai Asep sampai marah besar melihat praktik perebutan pemilik suara menjelang muktamar ini.

"Sudah sangat memalukan," ujar pengasuh pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto yang terkenal itu. Kiai Asep sendiri menginginkan agar kiai besar dari Ploso Kediri sebagai rais am yang baru nanti: KH Nurul Huda Djazuli.

Seorang kiai muda lainnya mencatat "inilah muktamar dengan tingkat intervensi terparah kedua setelah muktamar Cipasung".

Agak beda.

Intervensi di Cipasung, Tasikmalaya, saat itu karena pemerintahan Presiden Soeharto tidak menginginkan Gus Dur terpilih sebagai ketua umum. Tapi pemilik suara di muktamar Cipasung luar biasa dalam menjaga martabat NU. Mereka tidak berhasil dibeli. Tidak mampu dipecah belah. Tidak takut ditekan. Gus Dur tetap terpilih.

Saya hadir di muktamar Cipasung sebagai direktur utama Bank Nusuma –milik NU. Gus Dur adalah komisaris utama. Kiai Ma'ruf Amin sebagai komisaris. Posisi saya sebagai peninjau.

Kini begitu banyak yang merindukan situasi independen muktamar Cipasung. Banyak yang berharap para pemilik suara di Muktamar NU kali ini punya martabat seperti di muktamar Cipasung. Tidak terbeli. Tidak takut. Tidak terpengaruh.

Menghadapi banyaknya godaan saat ini sampai ada yang usul: agar pemilihan ketua umum tidak lagi lewat pemilihan langsung. Diganti seperti ini: setiap cabang memasukkan lima calon. Setelah nama-nama terkumpul dilihatlah siapa sembilan nama yang mendapat suara terbanyak. Sembilan nama itu diserahkan ke Ahlul Halli wal 'Aqdi (Ahwa). Ahwa-lah yang memilih salah satunya sebagai ketua umum. Tidak harus yang dapat suara terbanyak.

Ketika tiba saatnya pemilihan ketua umum Ahwa memang sudah terbentuk. Bahkan rais am yang baru sudah terpilih. Ahwa dan rais am baru menentukan ketua umum yang baru.

Soal sistem pemilihan Ahwa NU sudah ''matang'': sudah tiga kali muktamar pakai cara baru itu. Setiap cabang dan wilayah mengirim sembilan nama calon. Sembilan nama yang memperoleh suara terbanyak menjadi Ahwa. Lalu Ahwa bersidang untuk memilih rais am.

Di muktamar Lampung yang lalu, yang memperoleh suara terbanyak tidak terpilih. Itu karena KH Dimyati Rais (503 suara) menyatakan tidak bersedia menjadi rais am.

Peraih suara terbanyak kedua pun tidak bersedia. Maka peraih suara terbanyak ketiga ditanya: bersedia atau tidak. Yang ditanya tidak menjawab ''iya" tidak juga menjawab "tidak". Itu ditafsirkan sebagai bersedia: KH Miftakhul Akhyar dari Surabaya.

Cara itu akan dilakukan lagi di muktamar kali ini. Jadwal pemilihan Ahwa itu Sabtu besok. Minggu lusa giliran pemilihan ketua umum: entah masih dengan cara lama atau sudah dengan cara baru. Tergantung hasil sidang pembahasan tata tertib yang jadwalnya berlangsung Jumat hari ini.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id