Kesehatan . 28/08/2026, 05:39 WIB

FDA Setujui Daraxonrasib, Obat Kanker Pankreas yang Perpanjang Harapan Hidup Pasien

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

fin.co.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menyetujui daraxonrasib sebagai pilihan pengobatan baru untuk kanker pankreas. Obat yang dipasarkan dengan nama Rasonque itu dinilai membawa harapan bagi pasien dengan salah satu jenis kanker yang paling sulit ditangani.

Persetujuan tersebut didasarkan pada hasil uji klinis tahap akhir yang menunjukkan daraxonrasib dapat memperpanjang rata-rata kelangsungan hidup pasien dibandingkan kemoterapi. Dalam penelitian yang melibatkan sekitar 500 pasien, peserta yang mengonsumsi tablet ini setiap hari memiliki rata-rata kelangsungan hidup 13,2 bulan. Sementara itu, kelompok pasien yang menjalani kemoterapi mencatat rata-rata 6,7 bulan.

Menargetkan Mutasi KRAS pada Kanker Pankreas

Daraxonrasib bekerja dengan menargetkan perubahan atau mutasi pada gen KRAS. Gen tersebut berperan penting dalam mengatur pertumbuhan sel. Namun, ketika mengalami mutasi, KRAS dapat terus mengirimkan sinyal pertumbuhan yang tidak terkendali sehingga sel kanker berkembang, menyebar, dan sulit dihentikan.

Mutasi KRAS ditemukan pada lebih dari 90 persen tumor kanker pankreas. Karena itulah, gen ini selama bertahun-tahun menjadi sasaran penting dalam pengembangan obat kanker. Meski demikian, KRAS dikenal sebagai target yang sangat rumit karena struktur proteinnya sulit dihambat dengan obat.

Daraxonrasib dirancang untuk mengunci dan menonaktifkan sinyal dari KRAS yang bermutasi. Dengan mekanisme ini, pertumbuhan kanker diharapkan dapat ditekan. Pendekatan tersebut berbeda dari kemoterapi konvensional yang umumnya menyerang sel yang membelah cepat, termasuk sejumlah sel sehat di tubuh.

FDA menyebut persetujuan obat ini sebagai pilihan baru yang penting bagi pasien yang menghadapi penyakit sangat sulit diobati. Daraxonrasib sebelumnya juga memperoleh status Breakthrough Therapy pada 2025. Status itu diberikan kepada terapi yang menunjukkan potensi perbaikan besar dibandingkan pilihan pengobatan yang sudah tersedia bagi penyakit serius.

Kanker Pankreas Sering Terdeteksi Terlambat

Kanker pankreas dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala khas pada tahap awal. Pankreas berada jauh di dalam rongga perut sehingga tumor berukuran kecil sulit dideteksi lewat pemeriksaan fisik biasa.

Gejala seperti nyeri perut atau punggung, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, hilangnya nafsu makan, penyakit kuning, dan perubahan pola buang air besar sering baru muncul ketika kanker telah berkembang. Kondisi itu membuat banyak pasien baru mendapatkan diagnosis saat kanker sudah berada pada stadium lanjut atau telah menyebar ke organ lain.

American Cancer Society menyebut kanker pankreas termasuk kanker dengan tingkat kelangsungan hidup terendah di antara kanker utama. Di Amerika Serikat, puluhan ribu kasus baru terdiagnosis setiap tahun. Tantangan besarnya bukan hanya pada deteksi dini, melainkan juga pada pilihan terapi yang terbatas ketika kanker tidak lagi dapat diangkat melalui operasi.

Dalam konteks tersebut, hasil uji klinis daraxonrasib menjadi perhatian. Perpanjangan rata-rata kelangsungan hidup dari 6,7 bulan menjadi 13,2 bulan bukan berarti obat ini menyembuhkan seluruh pasien. Namun, peningkatan tersebut menunjukkan adanya kemajuan berarti dalam pengobatan kanker pankreas stadium lanjut.

Efek Samping Tetap Perlu Dipantau

Seperti obat kanker lainnya, daraxonrasib tetap dapat menimbulkan efek samping. FDA mencatat keluhan yang paling sering muncul meliputi ruam kulit, diare, mual, kelelahan, dan muntah. Dalam uji klinis, sekitar 44 persen pasien yang menerima daraxonrasib mengalami efek samping berat.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kelompok kemoterapi, yang mencatat efek samping berat sekitar 57,5 persen. Meski demikian, keamanan dan kecocokan obat harus tetap dievaluasi secara individual oleh dokter spesialis onkologi. Kondisi fisik pasien, stadium kanker, fungsi organ, riwayat terapi sebelumnya, serta karakteristik genetik tumor dapat memengaruhi keputusan pengobatan.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id