Catatan Dahlan Iskan

Life Begins

Di samping ada Muktamar NU dan seminar kebangsaan oleh paguyuban suku Hakka di Indonesia, hari ini --26 Agustus-- adalah ulang tahun emas PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Saya ingin merayakan secara khusus ultah ke-50 PT DI itu lewat tulisan hari ini.

Life Begins
Pesawat N219 terbang di wilayah Bali dalam sebuah momen di 2024.-@officialptdi-

Oleh: Dahlan Iskan

Di samping ada Muktamar NU dan seminar kebangsaan oleh paguyuban suku Hakka di Indonesia, hari ini --26 Agustus-- adalah ulang tahun emas PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Saya ingin merayakan secara khusus ultah ke-50 PT DI itu lewat tulisan hari ini.

Sebenarnya ada satu lagi peristiwa hari ini: seorang peserta muktamar Disway kehabisan listrik di jalan tol Caruban arah Jakarta. Ia derek Denza itu. Hari ini ia harus ke dilernya: kenapa begitu.

Tentu yang terpenting dari semua itu adalah HUT PT DI. Bisa jadi ulang tahun kali ini sebagai penanda kebangkitan PTDI --lewat produk baru kebanggaannya: N219. Pesawat untuk 19 penumpang itu dibuat sepenuhnya di Bandung. Oleh anak-anak bangsa sendiri. Mulai desain sampai jadi pesawat.

"Tidak satu pun ada keterlibatan orang asing," ujar Gita Amperiawan, dirut PTDI dengan penuh semangat.

Gita adalah jenderal bintang dua TNI Angkatan Udara. Marsekal Muda. Gita bukan jenderal biasa. Ia alumnus teknik mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), angkatan 1985. Di tahun keempatnya di ITB pun Gita sudah dinyatakan lulus tes beasiswa TNI-AU. Boleh dikata Gita adalah mahasiswa yang sudah "diijon" sebelum lulus.

Maka Gita harus "cuti" kuliah: satu semester. Gita harus mengikuti pendidikan militer di Bumimoro, Surabaya. Setelah itu balik lagi ke ITB sampai lulus. Lalu dapat beasiswa BJ Habibie untuk melanjutkan S-2 di Inggris. Di bidang ilmu material canggih kedirgantaraan.

Sambil terus berkarir di TNI-AU Gita mendapatkan beasiswa lanjutan. Juga di Cranfield University, Inggris. Yakni untuk program doktor teknik mesin pesawat. Disertasinya tentang pengendalian suhu panas untuk keandalan turbin.

Saya membuka-buka jurnal ilmiah: begitu banyak karya ilmiah Gita di publikasi di tingkat internasional. Khususnya di bidang penerbangan, perawatan pesawat sampai ke marketing dan manajemen industri pesawat. Ia memang punya gelar satu master lagi: MBA dari ITB.

Sejak menjabat dirut PT DI di tahun 2022 --waktu itu Prabowo Subianto menjabat menteri pertahanan-- Gita tahu: selama ini PT DI terlalu bergantung pada pemasok tertentu. Eropa dan Amerika.

Gita juga tahu yang paling banyak membeli pesawat Casa adalah negara-negara di Amerika Latin: negara berbahasa Spanyol, tempat Casa diproduksi: Spanyol. Perawatan pesawat mereka terganggu. Tidak cukup lagi pasok suku cadangnya.

Gita melihat itu sebagai peluang besar bagi PT DI. Khususnya di bidang yang amat ia kuasai: pemeliharaan. PTDI sudah dikenal ahli N-235 yang berbasis Casa.

PT DI, pikirnya, bisa mendapat banyak bisnis pemeliharaan di Amerika Latin. Bukan sekadar pemeliharaan: juga menghidupkan banyak yang sudah mati. Termasuk turbinnya. Sampai pun ke recoatingblade-nya. Dan itu adalah keahlian Gita. Ia pernah sampai menjabat kepala direktorat pemeliharaan Mabes TNI AU: bertanggung jawab pada keandalan operasi pesawat-pesawat militer.

"Banyak Casa yang grounded di sana," ujar Gita.

Suatu saat Gita dipanggil Presiden Prabowo. Diberi order besar: bikin pesawat N219 sebanyak 80 pesawat. Gita bergegas mengkajinya. Terutama dari mana akan dapat pasok suku cadang. Ini berarti perlu modal kerja yang besar.

Berita Terkait