Catatan Dahlan Iskan . 26/08/2026, 05:49 WIB
Pemasok di Eropa dan Amerika pasti tidak mau kirim suku cadang tanpa dibayar. Reputasi kemampuan bayar PT DI selama ini dikenal tidak terlalu baik.
Tapi mereka mulai tertarik kembali berhubungan dengan PT DI. Apalagi mereka tahu ada order resmi dari pemerintah Indonesia.
Gita tahu: tidak mungkin bisa menyelesaikan 80 pesawat dalam lima tahun. Ia pun beberapa kali menghadap Presiden Prabowo untuk mendiskusikan soal itu.
Kemampuan PT DI selama ini hanya membuat pesawat N235 satu pesawat tiap bulan. Antara lain karena terbatasnya modal kerja dan ketersediaan pasok suku cadang --ini juga soal modal kerja.
Maka Gita cari akal untuk mencari pemasok agar lebih banyak pilihan. Masih ada Kanada. Ada Tiongkok. Ada Brasil. Tergantung mana yang bisa memberi dukungan lebih baik bagi PT DI.
Tidak hanya itu. Gita juga mencari pemasok dalam negeri. Ia mendorong swasta nasional untuk bisa memasok N219 PT DI. Seperti halnya Vela, helikopter listrik buatan PT Vela Prima Nusantara, Bandung. Karbon kompositnya sudah bisa dipasok dari dalam negeri (Disway 22 Agustus 2026: Bintang Vela).
"Ternyata banyak yang bisa dipasok oleh perusahaan dalam negeri. Jangan semuanya impor," ujar Gita.
Ini juga persoalan modal kerja.
Gita pun ingat: orang kepepet sering punya ide baru. Bisa lebih kreatif. Gita tahu, di bidang lain, banyak mesin yang dijual di Indonesia dengan sistem "sewa pakai". Mesin apa saja. Mulai dari foto copy sampai mesin MRI: untuk kamar radiologi rumah sakit besar.
Ada produsen mesin MRI yang mau mesinnya ditaruh di satu rumah sakit tanpa bayar di depan. Membayarnya berdasar berapa kali dipakai oleh pasien di rumah sakit itu. Semacam bagi hasil.
Mungkin memang belum ada pabrik mesin pesawat yang mau dibeli dengan sistem sewa pakai. Perintis sistem ini adalah mesin foto copy. Lalu digital printing. Berkembang tak terkendali. Sampai pun kini ke mesin MRI.
Siapa tahu mesin pesawat juga bisa dibeli dengan cara itu. Mungkin saja produsen mesin pesawat dari Tiongkok mau dirayu untuk pakai sistem sewa pakai.
Kalau cara baru Gita berhasil order 80 buah N219 akan bisa diselesaikan tanpa terlalu mengganggu APBN. Dari sini PT DI bisa berkembang ke pasar komersial.
"Peru sudah memesan lima N219," ujar Gita. "Satu perusahaan carter di Indonesia sendiri sudah order tiga buah," tambahnya.
Gita juga mengincar pasar penerbangan perintis yang sangat besar di dalam negeri. Apalagi ada ketentuan: penerbangan perintis harus menggunakan pesawat bermesin ganda. "N219 sangat cocok. Bukan seperti selama ini, penerbangan perintis pakai pesawat bermesin tunggal," katanya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id