Prancis Dilanda Gelombang Panas, Picu 301 Kasus Orang Tenggelam
Prancis mencatat 301 kematian akibat tenggelam sejak 19 Juni 2026, ketika negara tersebut menghadapi periode gelombang panas berkepanjangan. Pemerintah Prancis
Karena itu, berenang untuk mengatasi panas tetap membutuhkan kewaspadaan, terutama di perairan yang tidak dikenal atau tidak memiliki pengawasan.
Eropa Menghangat Lebih Cepat
Lonjakan kematian akibat tenggelam terjadi ketika Prancis dan sejumlah negara Eropa lainnya menghadapi gelombang panas. Spanyol dan Italia juga mengalami suhu tinggi yang turut memperburuk kondisi kebakaran hutan di sejumlah wilayah.
Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan temperatur global. Eropa bahkan tercatat sebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat.
Menurut World Meteorological Organization dan Copernicus Climate Change Service, Eropa telah mengalami pemanasan sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global sejak dekade 1980-an.
Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan masyarakat menghadapi periode suhu tinggi yang dapat memengaruhi kesehatan, lingkungan, infrastruktur, hingga aktivitas sehari-hari.
Gelombang panas pada Juni 2026 bahkan sempat berdampak pada operasional pembangkit listrik tenaga nuklir di Prancis.
Salah satu reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Golfech di wilayah barat daya Prancis sempat dihentikan karena temperatur air Sungai Garonne mencapai batas yang ditetapkan untuk operasional pembangkit.
Suhu tinggi di Paris juga sempat membuat sejumlah tempat wisata menyesuaikan operasionalnya, termasuk Menara Eiffel yang memutuskan tutup lebih awal ketika gelombang panas terjadi pada Juni.
Gelombang Panas Juga Memperburuk Risiko Kebakaran
Selain risiko terhadap kesehatan manusia, kondisi panas dan kering meningkatkan bahaya kebakaran hutan.
Prancis mengalami kebakaran di sejumlah wilayah selama periode tersebut. Gironde di sekitar Bordeaux, wilayah barat daya Prancis, termasuk kawasan yang terdampak serius.
Baca Juga
Menurut laporan BBC, lebih dari 200.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat kebakaran di wilayah tersebut pada akhir Juli.
Dampak suhu tinggi terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian. Data sementara otoritas kesehatan masyarakat Prancis mencatat sekitar 7.300 excess deaths atau kematian berlebih antara akhir Mei hingga 22 Juli 2026.
Kematian berlebih tidak berarti seluruh kematian tersebut secara langsung disebabkan oleh gelombang panas. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan jumlah kematian yang berada di atas angka yang diperkirakan terjadi dalam kondisi normal pada periode tertentu.