Paket Roaming

fin.co.id - 19/07/2026, 05:28 WIB

Paket Roaming

Monumen kapal selam di Vladivostok, Rusia.--

Di Vladivostok tiba-tiba saya "buta huruf". Semua petunjuk ditulis dalam huruf Rusia. Tapi saya tahu yang di sana itu kafe --apa pun huruf yang dipajang di depannya. Di situ saya sarapan. Ubi goreng yang irisannya seperti french fries --kentang goreng. Itu tidak penting. Yang penting saya bisa duduk untuk berpikir bagaimana cara pilih hotel. Buka internet. Nama-nama hotel pun muncul. Saya lihat bintangnya. Saya lihat harganya: Huraaaa...!!! Mahal sekali. Semahal di New York di saat ada Piala Dunia.

Saya pun hitung-hitung uang utangan di Beijing kemarin: cukup atau tidak. Alhamdulillah cukup. Tinggal ke konter taksi. Petugasnya langsung sodorkan HP ke saya. Oh... Maksudnyi agar saya bicara di HP-nyi: ke mana tujuan saya. Dia langsung bisa membaca terjemahan apa yang saya ucapkan dalam bahasa Inggris.

Begitulah zaman ini. Saling tidak tahu bahasa, tapi bisa lancar berkomunikasi: berkat si HP bisa jadi penerjemah gratis.

Saya kaget lihat harga taksi ke hotel yang saya pilih: Rp900.000. Tapi emosi segera reda setelah melihat mobilnya: Toyota Alphard. Bukan edisi yang mewah tapi tetap saja Alphard. Dan lagi bandara ini ternyata jauh di luar kota: satu jam perjalanan.

Rupanya salah informasi. Saya dibawa ke sebuah hotel yang dari luar terlihat tidak setara dengan harganya. Saya pun berbicara dengan pak sopir Alphard. Lewat penerjemah gratis. Ia mafhum yang saya maksud. Diantarkanlah saya ke hotel terbaik di Vladivistok. Lokasinya di pusat kota, di pinggir laut.

Di sebelah hotel ini melintang tinggi jembatan baru melintas di atas laut --seperti Jembatan Madura. Di seberang laut terlihat belahan kota Vladivostok.

Sepanjang berjalanan dari bandara saya cari tahu: lokasi apa saja yang menarik, yang harus saya kunjungi. Nomor satu: monumen perang dunia kedua. Nomor dua: jembatan baru. Mudah. Murah. Dua-duanya di sebelah hotel. Jembatan di sebelah kanan, monumen di sebelah kiri.

Pukul 09.00 saya sudah tiba di hotel. Go show. Saya pede saja. Pasti ada kamar. "Saya belum booking. Kami tidak tahu bagaimana mem-booking hotel Anda ini dari luar negeri," kata saya.

Kamar ada. Hanya saja jangan tanya harganya. Tentu saya dikenakan tarif "mendadak". Tarif go show. Sudahlah. Uang bisa dicari. Tapi saya tetap harus berhemat. Saya ditawari: saat itu juga bisa langsung masuk kamar. Tidak harus tunggu jam check-in pukul 14.00. Ada syaratnya: harus tambah bayar dengan tarif setengah hari.

Saya pilih titip tas saja. Lalu jalan kaki ke seberang hotel: habiskan waktu di monumen perang dunia kedua. Toh udara sejuk: 23 derajat. Untuk musim panas seperti 8 Juli 2026 suhu seperti itu "nyaman banar". Bagi orang Vladivostok itu hangat: di situ udara musim dingin bisa minus 35 derajat.

Baca Juga

Begitu tiba di monumen perang dunia kedua, ups.... kok ini seperti di Surabaya: ada monkasel --monumen kapal selam. Jangan-jangan monkasel Surabaya dapat inspirasi dari Vladivostok.

Surabaya-Vladivostok memang punya hubungan khusus: sama-sama menjadi basis angkatan laut. Di masa lalu banyak anggota TNI-AL ke Vladivostok. Sekolah. Kursus. Pelatihan. Monkasel yang di Surabaya itu pun kapal selam buatan Rusia --buatan galangan kapal di Vladivostok.

Yang dipajang di Vladivostok itu kapal selam pensiunan perang dunia kedua. Yang dipajang di Surabaya lebih muda: angkatan Trikora perebutan Papua di tahun 1950-an.

Saya beli karcis masuk Monkasel.

"Kapan itu ada orang Indonesia ke sini. Angkatan Laut. Pangkatnya tinggi," ujar petugas jaga pintu masuknya. Dia pun membuka HP. Cari-cari foto. "Saya berfoto dengan mereka," tambahnyi.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca