Internasional . 12/07/2026, 22:38 WIB
fin.co.id - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) pada Minggu, 12 Juli 2026, secara resmi meminta bantuan kepada pihak Korea Utara (Korut). Permintaan tersebut bertujuan untuk mencari sekaligus memulangkan seorang prajurit Angkatan Laut Korsel yang hilang, yang diduga kuat telah hanyut melintasi perbatasan maritim de facto antar-Korea.
Langkah ini menyusul adanya laporan bahwa personel militer tersebut mendadak hilang pada Minggu pagi. Peristiwa ini terjadi saat sebuah kapal militer tengah menjalankan tugas patroli rutin di lepas pantai timur Korea Selatan, tepatnya di sekitar Garis Batas Utara (NLL).
"Seorang pelaut di atas kapal angkatan laut Korea Selatan yang melakukan misi keamanan di Laut Timur hilang pada pagi hari tanggal 12 Juli dan diyakini telah hanyut ke utara NLL," jelas Kementerian Unifikasi Seoul dalam pernyataan singkat yang diberikan kepada AFP, merujuk pada perairan yang juga populer sebagai Laut Jepang.
Pihak kementerian juga menekankan pentingnya aspek kemanusiaan dalam kasus hilangnya penjaga laut tersebut.
"Karena angkatan laut Korea Selatan saat ini sedang mencari pelaut yang hilang, kami meminta kerja sama Korea Utara, atas dasar kemanusiaan, dalam pencarian dan pemulangan individu tersebut," tambah perwakilan pihak kementerian.
Berdasarkan laporan dari Kantor Berita Yonhap, personel militer yang hilang di kawasan perbatasan laut tersebut menyandang pangkat sebagai pelaut magang. Merespons situasi darurat ini, otoritas tertinggi militer segera mengambil tindakan cepat untuk menyisir lokasi.
Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back juga langsung menginstruksikan para pejabat di jajarannya untuk "berupaya semaksimal mungkin menyelamatkan prajurit yang hilang secepat dan seaman mungkin," tulis kementerian pertahanan dalam sebuah pernyataan resmi, tanpa memberikan detail lebih lanjut mengenai kronologi kejadian.
Permohonan bantuan darurat ini muncul pada momentum yang krusial bagi kepemimpinan di Seoul. Saat ini, Presiden Lee Jae Myung tengah aktif berupaya keras untuk meredakan ketegangan dengan pihak Korea Utara yang bersenjata nuklir. Presiden menempuh jalan dialog serta langkah-langkah membangun kepercayaan setelah melewati bertahun-tahun hubungan yang tegang.
Sejak menjabat pada Juni 2025, Presiden Lee menerapkan pendekatan yang cenderung lebih lunak terhadap negara tetangganya tersebut. Kebijakan ini sangat kontras jika membandingkannya dengan sikap keras yang diambil oleh pendahulu kursinya.
Namun, hingga saat ini pihak Pyongyang belum memberikan respons resmi atas tawaran berulang dari pihak Seoul. Di sisi lain, Korea Utara justru terlihat semakin memperdalam hubungan diplomatik mereka dengan Moskow. Baru-baru ini, Pyongyang bahkan menjadi tuan rumah dalam pertemuan puncak bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping di ibu kota mereka.
Menariknya, laporan resmi dari pertemuan puncak antar-pemimpin negara tersebut sama sekali tidak menyebutkan perihal isu denuklirisasi. Kini, kasus hanyutnya pelaut magang di zona sensitif NLL akan menjadi ujian terbaru bagi jalur komunikasi kemanusiaan kedua negara.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id