Lifestyle . 12/07/2026, 16:33 WIB

Mengembalikan Pola Tidur Anak yang Berantakan Usai Libur Panjang: Simak 7 Tips Efektif Ini

Penulis : Ari Nur Cahyo
Editor : Ari Nur Cahyo

fin.co.id - Libur panjang sering kali mengubah total kebiasaan sehari-hari, bukan hanya bagi orang dewasa tetapi juga bagi anak-anak. Selama masa liburan, rutinitas yang awalnya berjalan disiplin biasanya menjadi longgar. Salah satu perubahan yang paling mencolok dan sering kali mengganggu adalah pergeseran jadwal tidur. Si kecil yang biasanya tidur tepat waktu kini terbiasa terjaga hingga larut malam.

Fenomena ini sangat wajar terjadi, namun orang tua tidak boleh membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Ketika masa liburan berakhir, ayah dan bunda wajib membangun kembali rutinitas sehat agar anak-anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup sebelum mereka kembali beraktivitas di sekolah.

Sayangnya, banyak orang tua yang kerap meremehkan pentingnya kebutuhan tidur anak-anak. Mereka sering kali mengabaikan hubungan erat antara kurang tidur dengan tantangan perilaku, gangguan kognitif, serta penurunan kesehatan anak secara keseluruhan. Padahal, lembaga medis ternama dunia, Mayo Clinic, melansir data bahwa kurang tidur dapat merusak berbagai fungsi perilaku dan kognitif pada anak. Jika bunda melihat si kecil mulai kesulitan mengerjakan tugas sekolah, cepat marah, atau malas beraktivitas, cobalah mengevaluasi kembali durasi dan kualitas tidur mereka.

Guna mengatasi masalah tersebut, berikut adalah tujuh langkah taktis dan efektif yang bisa orang tua terapkan untuk memperbaiki waktu tidur anak usai libur panjang:

1. Menetapkan Kembali Jadwal Tidur dan Bangun Secara Konsisten

Memulai kembali rutinitas memang membutuhkan kesabaran ekstra. Selama beberapa hari pertama setelah liburan, anak mungkin akan merasa kesulitan untuk memejamkan mata atau bangun pada waktu yang optimal. Oleh karena itu, orang tua harus menetapkan kembali jam tidur dan jam bangun yang teratur setiap hari. Terapkan jadwal ini dengan disiplin, mirip seperti jadwal yang berlaku pada masa-masa sekolah, agar jam biologis tubuh anak kembali menyesuaikan diri.

2. Mengajak Anak Merapikan Mainan Sebelum Tidur

Aktivitas merapikan mainan sering kali terasa seperti pekerjaan yang melelahkan bagi orang tua. Namun, kondisi kamar yang berantakan ternyata memiliki pengaruh buruk terhadap kualitas tidur seseorang. Martin Seeley, CEO sekaligus pakar tidur dari MattressNextDay, mengungkapkan bahwa kamar tidur anak idealnya harus bersih dan bebas dari kekacauan. Ketika anak melihat terlalu banyak benda atau mainan favorit di sekitarnya, otak mereka akan kesulitan untuk beristirahat. Oleh sebab itu, bunda harus mendorong si kecil untuk merapikan barang-barangnya sebelum memulai rutinitas menjelang tidur.

3. Membatasi dan Mengatur Pencahayaan Kamar

Setiap anak memiliki preferensi yang berbeda terkait pencahayaan; ada yang takut gelap sehingga ingin menyalakan lampu, dan ada pula yang baru bisa terlelap dalam kondisi gelap gulita. Namun secara ilmiah, paparan cahaya yang berlebihan justru dapat mengacaukan jam tubuh internal anak atau ritme sirkadian. Cahaya yang terang mengirimkan sinyal keliru ke otak bahwa hari masih siang. Sebaliknya, suasana kamar yang gelap akan merangsang tubuh untuk melepaskan hormon melatonin yang memicu rasa kantuk. Untuk itu, batasi penggunaan lampu terang dan matikan perangkat elektronik yang memancarkan cahaya di dalam kamar.

4. Menjauhkan Gadget Minimal Dua Jam Sebelum Tidur

Para ilmuwan dari Anglia Ruskin University (ARU) di Cambridge, Inggris, menemukan fakta bahwa durasi bermain gawai (screentime) yang berlebihan berdampak negatif pada pola makan, kualitas tidur, kesehatan mental, hingga kesehatan mata anak. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar tablet atau ponsel pintar dapat menipu pikiran anak sehingga mereka tetap merasa terjaga. Oleh karena itu, bunda sebaiknya menjauhkan semua gawai dari jangkauan anak minimal dua jam sebelum waktu tidur. Sebagai alternatif, arahkan mereka untuk melakukan aktivitas menenangkan seperti membaca buku cerita atau mandi air hangat.

5. Mengajak Anak Bermain di Luar Ruangan Setiap Hari

Menghabiskan waktu minimal 10 menit di bawah paparan sinar matahari pagi setiap hari terbukti mampu meningkatkan kadar hormon serotonin yang berfungsi menjaga suasana hati (mood). Hal ini juga berlaku sangat efektif untuk anak-anak. Selain meningkatkan kesehatan fisik, bermain di luar ruangan membantu si kecil mengeksplorasi lingkungan, melatih kemampuan memecahkan masalah, membina ketahanan fisik, serta belajar berteman. Aktivitas fisik yang cukup di siang hari juga akan membuat tubuh anak merasa lelah secara sehat, sehingga mereka bisa tertidur lebih cepat pada malam hari.

6. Meluangkan Waktu Berkualitas Bersama Si Kecil

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id