Internasional . 05/07/2026, 18:47 WIB

Iran Klaim Berhak Terapkan Biaya Layanan di Selat Hormuz, Negara Sahabat Akan Dapat Perlakuan Khusus

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Ketegangan baru berpotensi muncul di jalur maritim paling krusial di dunia: Selat Hormuz. Duta Besar Iran untuk China pada Sabtu, 4 Juli 2026 menegaskan, biaya baru akan dikenakan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Ini adalah sebuah gagasan yang ditolak oleh Washington. Iran juga memastikan, bahwa negara-negara "sahabat" akan menerima perlakuan khusus.

Langkah ini langsung memicu perhatian global karena menyangkut jalur pasokan energi internasional. Kesepakatan awal yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang mereka menetapkan bahwa kapal-kapal komersial akan melintasi selat tersebut secara gratis selama 60 hari, tetapi masih belum jelas apa yang akan berlaku setelah periode tersebut.

Alasan Keamanan dan Kerja Sama Iran-Oman di Jalur Air Vital

Teheran kini tengah merancang regulasi maritim tersebut bersama negara tetangganya demi mengamankan kawasan. Duta Besar Iran Abdolreza Rahmani Fazli mengatakan kepada Forum Perdamaian Dunia di Beijing bahwa negaranya sedang bekerja sama dan berkolaborasi dengan Oman mengenai pengaturan baru untuk jalur air vital tersebut.

Pihak Iran berargumen memiliki hak penuh secara hukum wilayah untuk menerapkan kebijakan retribusi ini. "Sebagai negara di mana Hormuz merupakan bagian dari perairan teritorialnya, kami pasti akan mengenakan biaya layanan," kata Azli dalam pernyataan yang diterjemahkan, sambil menegaskan bahwa biaya tersebut bukanlah "pungutan tol."

“Pengaturan baru ini akan berkaitan dengan jaminan keamanan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, pengawasan jalur pelayaran kapal dan juga menjamin serta menangani konsekuensi lingkungan dari banyaknya kapal,” katanya.

Dampak terhadap Harga Energi Dunia dan Insentif Negara Setia

Penerapan biaya ini memicu kekhawatiran besar di pasar global karena besarnya ketergantungan dunia pada jalur tersebut. Selat tersebut biasanya dilalui oleh seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia, tetapi hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran selama perang Timur Tengah, yang menyebabkan harga energi melonjak.

Meski memicu penolakan dari blok Barat, Iran tetap bersikeras menjalankan skema ini sambil membawa angin segar untuk para sekutu setianya. “Kami pasti akan mempertimbangkan perlakuan khusus untuk negara-negara yang bersahabat dengan kami dan secara khusus mendukung kami selama masa-masa sulit,” tambahnya.

Saat ini situasi di sekitar koridor maritim tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran dibanding masa konflik, walau negosiasi besar masih berjalan di balik layar. Iran mencabut blokade Hormuz setelah mencapai kesepakatan awal dengan AS untuk mengakhiri perang Timur Tengah, dan negosiasi tentang penyelesaian permanen konflik tersebut sedang berlangsung.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id