Sport . 29/06/2026, 21:51 WIB
Pelatih Austria, Ralf Rangnick, langsung membantah keras tudingan tersebut.
Menurutnya, pertandingan dengan enam gol dan drama hingga detik terakhir justru membuktikan tidak ada kesepakatan apa pun.
Ia mengaku belum pernah menyaksikan pertandingan dengan alur sedramatis itu selama puluhan tahun menjadi pelatih.
Rangnick bahkan berseloroh bahwa apabila sutradara legendaris Alfred Hitchcock menulis skenario seperti pertandingan tersebut, orang-orang mungkin akan menganggapnya terlalu gila untuk dipercaya.
Baginya, hasil 3-3 sama sekali tidak mencerminkan pertandingan yang sudah diatur.
Nada serupa juga disampaikan pelatih Aljazair, Vladimir Petkovic.
Ia menegaskan bahwa pertandingan berlangsung secara sportif dan penuh perjuangan.
Menurutnya, skor 3-3 justru menjadi bukti bahwa kedua tim sama-sama berusaha mencetak gol sepanjang laga.
Petkovic menolak seluruh tudingan mengenai adanya kesepakatan hasil pertandingan.
Ia menegaskan bahwa yang menang dalam laga tersebut adalah sepak bola itu sendiri.
Meski tidak ditemukan bukti adanya pengaturan pertandingan, banyak penggemar sepak bola menganggap duel Aljazair melawan Austria sebagai pengingat akan Skandal Gijon 1982.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan FIFA kemudian mengubah regulasi sehingga pertandingan terakhir fase grup dimainkan secara bersamaan untuk mengurangi peluang terjadinya pengaturan hasil.
Kini, empat dekade setelah peristiwa di Gijon, nama Austria dan Aljazair kembali menjadi pusat perhatian dunia sepak bola.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id