MEGAPOLITAN . 25/06/2026, 06:23 WIB
fin.co.id - Kualitas udara di Jakarta pada Kamis pagi berada dalam kondisi tidak sehat. Berdasarkan pemantauan terbaru, ibu kota bahkan menempati posisi kedua dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Data dari situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.50 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 174. Nilai tersebut masuk kategori tidak sehat dengan konsentrasi partikel PM2.5 sebesar 80 mikrogram per meter kubik.
Kondisi ini menunjukkan kualitas udara yang dapat berdampak buruk bagi kelompok sensitif. Paparan polusi pada tingkat tersebut berpotensi merugikan kesehatan manusia maupun hewan yang rentan, serta dapat memengaruhi tumbuhan dan menurunkan nilai estetika lingkungan.
Seiring kondisi tersebut, IQAir menyarankan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan guna mengurangi paparan polusi. Warga juga disarankan menutup jendela rumah agar udara kotor dari luar tidak masuk ke dalam ruangan.
Dalam klasifikasi kualitas udara, kategori baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0-50. Pada level ini, kualitas udara tidak memberikan dampak terhadap kesehatan manusia maupun hewan, serta tidak memengaruhi tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika lingkungan.
Sementara itu, kategori sedang berada pada rentang PM2.5 sebesar 51-100. Pada tingkat ini kualitas udara umumnya tidak berdampak pada kesehatan manusia dan hewan, namun dapat memengaruhi tumbuhan yang sensitif serta menurunkan nilai estetika.
Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2.5 sebesar 200-299. Pada kondisi tersebut, kualitas udara dapat membahayakan kesehatan sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar. Di atasnya terdapat kategori berbahaya dengan rentang 300-500, yang secara umum dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi populasi.
Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk dunia, posisi pertama ditempati Kinshasa, Democratic Republic of the Congo dengan indeks 204. Jakarta berada di peringkat kedua dengan indeks 174. Selanjutnya, Dubai, United Arab Emirates menempati posisi ketiga dengan indeks 151, diikuti Kolkata, India dengan indeks 135, serta Doha, Qatar dengan indeks 132.
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah mengembangkan platform pemantauan kualitas udara terintegrasi yang didukung oleh 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.
Data yang dihimpun dari seluruh SPKU tersebut ditampilkan melalui platform pemantauan kualitas udara yang telah diperbarui. Sistem ini dikembangkan sebagai penyempurnaan dari layanan sebelumnya dan disesuaikan dengan standar yang berlaku secara nasional.
Platform tersebut juga mengintegrasikan data dari berbagai lembaga, termasuk SPKU milik DLH Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta Vital Strategies, sehingga masyarakat dapat memantau kondisi kualitas udara secara lebih komprehensif. *
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id