Kerusuhan meledak ketika rakyat merasa negara tidak lagi memenuhi janji dasarnya. Negara dianggap gagal melindungi, gagal memberi keadilan, gagal membuka peluang, dan gagal mendengar suara masyarakat. Pada titik itu, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya.
-000-
Mengapa teori ini lebih kuat? Karena teori ini bersifat integratif.
Teori Relative Deprivation menjelaskan rasa tidak adil. Resource Mobilization menjelaskan organisasi. Networked Protest menjelaskan jaringan digital.
Masing-masing benar.
Namun masing-masing hanya menjelaskan sebagian gambar.
Teori Kerusuhan Era Digital menyatukan seluruh elemen penting dalam satu kerangka yang koheren.
Ia menjelaskan akar ekonomi yang menciptakan kemarahan. Ia mengidentifikasi lahirnya kelas rentan digital sebagai aktor baru sejarah.
Ia menjelaskan peran media sosial sebagai mesin amplifikasi emosi. Ia membedakan pemicu dari akar masalah.
Ia menjelaskan bagaimana provokasi mengubah arah gerakan. Dan yang terpenting, ia menawarkan dimensi normatif berupa kebutuhan membangun kembali kontrak sosial yang rusak.
Baca Juga
Teori ini tidak hanya menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. Ia juga menjelaskan mengapa kerusuhan menyebar.
Ia tidak hanya menjelaskan siapa yang marah. Ia juga menjelaskan mengapa mereka marah. Ia tidak hanya menjelaskan ledakan.
Ia juga menunjukkan jalan keluar. Dalam rumusan singkat:
Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract.
Kelima variabel ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah siklus. Keresahan ekonomi menumpuk di kelas rentan digital, diperbesar algoritma, dipicu simbol tragis, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.