Saya menyebutnya: Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun di atas lima variabel utama.
Variabel pertama adalah Economic Grievance atau keresahan ekonomi.
Setiap kerusuhan membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar itu adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan rakyat. Harga pangan yang meningkat, lapangan kerja yang menyempit, daya beli yang menurun, dan masa depan yang terasa makin tidak pasti menciptakan akumulasi kemarahan.
Ekonomi bukan sekadar statistik. Ia adalah pengalaman sehari-hari di meja makan keluarga.
Variabel kedua adalah Digitally Vulnerable Class (DVC)
Inilah kontribusi paling orisinal teori ini. Saya menyebutnya kelas rentan digital. Mereka adalah ojol, kurir, freelancer, pekerja platform, content creator kecil, dan berbagai pekerja informal digital.
Mereka hidup dalam tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan. Mereka menjadi subjek utama kerusuhan digital abad ke-21.
-000-
Variabel ketiga adalah Social Media Amplification.
Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif. Ia mengubah keluhan lokal menjadi kemarahan nasional. Ia mempercepat solidaritas sekaligus memperbesar kepanikan.
Baca Juga
Di era digital, notifikasi dapat menggantikan pamflet revolusi.
Variabel keempat adalah Trigger and Provocation.
Kemarahan memerlukan simbol. Dalam kasus Agustus 2025, Affan Kurniawan menjadi simbol itu. Setelah pemicu muncul, provokator dan disinformasi dapat membelokkan protes damai menjadi kerusuhan.
Teori ini membedakan secara tegas antara akar masalah, pemicu, dan distorsi.
Variabel kelima adalah Broken Social Contract.