Internasional . 11/06/2026, 18:59 WIB
fin.co.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih tertinggi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa para pemimpin Iran meneleponnya secara langsung untuk meminta Washington menghentikan gelombang pengeboman yang sedang berlangsung.
Dalam wawancara eksklusif bersama Fox News pada Rabu, 10 Juni 2026 malam, Trump menjelaskan bahwa pasukan militer AS baru saja menghantam wilayah Iran menggunakan 49 rudal Tomahawk. Serangan udara masif tersebut berlangsung pada Kamis, 11 Juni 2026 dini hari waktu Iran.
"Jika Iran tidak menerima persyaratan AS untuk mengakhiri perang, kita akan membombardir mereka habis-habisan besok malam," ujar Trump menirukan peringatan kerasnya, sebagaimana dilaporkan oleh jurnalis Fox News, Trey Yingst.
Merespons pernyataan sepihak tersebut, pihak Teheran langsung mengeluarkan bantahan resmi. Melalui laporan kantor berita negara IRNA, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa tidak ada satu pun pejabat mereka yang menghubungi presiden Amerika Serikat tersebut.
“Klaim Trump bahwa pejabat Iran telah menghubunginya dibantah keras dan merupakan kedok untuk menghindari perang,” tegas pihak IRGC dalam pernyataan resminya.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kini telah memasuki hari kedua berturut-turut. Trump bersumpah akan terus meluncurkan serangan lanjutan yang lebih agresif jika Teheran menolak untuk segera menandatangani kesepakatan damai.
Eskalasi pertempuran ini bermula pada awal pekan setelah sebuah helikopter Apache milik militer AS jatuh di dekat kawasan strategis Selat Hormuz. Peristiwa tersebut memicu rangkaian serangan balasan berantai di seluruh teritori Iran serta pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini menjadi ancaman paling serius bagi gencatan senjata rapuh yang sempat kedua pihak sepakati pada bulan April lalu. Situasi terbaru ini sekaligus mengikis harapan publik dunia untuk melihat akhir dari perang yang mulanya pecah pada akhir Februari lewat serangan udara gabungan skala besar oleh AS dan Israel ke Iran.
Komando Pusat (CENTCOM) militer AS menyatakan bahwa operasi udara terbaru mereka menyasar infrastruktur vital musuh. Target utama mencakup kemampuan pengawasan militer, sistem komunikasi, serta situs pertahanan udara di seluruh wilayah Iran. AS menyebut langkah ini sebagai respons atas agresi tidak beralasan yang Teheran lakukan secara berkelanjutan.
Melalui platform X, Trey Yingst menambahkan bahwa Trump siap menghentikan penyerangan dengan cepat. Namun, syaratnya adalah para pemimpin Iran harus segera menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat. Akibat ancaman eskalasi global ini, harga minyak dunia langsung melonjak hampir $3 dan terus merangkak naik pada perdagangan awal di pasar Asia.
Komando Pusat militer AS mengumumkan bahwa gelombang serangan mereka telah selesai dalam kurun waktu sekitar empat jam, atau sesaat setelah tengah malam waktu Teheran.
Sebagai aksi balasan, IRGC langsung meluncurkan serangan balik ke sejumlah negara sekutu AS. Iran membombardir Kuwait dan Bahrain, serta menargetkan pangkalan udara al-Azraq di Yordania untuk malam kedua berturut-turut dengan menembakkan 12 rudal balistik ke pangkalan militer AS tersebut.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id