Catatan Dahlan Iskan . 30/05/2026, 05:41 WIB

Pet Byar

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Di zaman Orde Baru ''jalan tol'' ini dibangun antara Lampung-Sumbar-Sumut lewat sisi barat Sumatera. Zaman itu Sumatera sisi timur belum berkembang.

Belakangan, wilayah Riau-Jambi berkembang jauh lebih pesat dari sisi barat. Keperluan listriknya meningkat drastis. Maka di suatu masa yang Anda sudah bisa menduga diputuskanlah untuk membangun ''jalan tol listrik'' yang lebih besar di sisi timur Sumatera.

Kalau transmisi di sisi barat 275 kv, yang di sisi timur itu 500 kv --bisa mengangkut listrik hampir dua kali lipatnya.

Dengan demikian Sumatera punya dua ''jalan tol'': dua lajur di sisi barat, empat lajur di sisi timur. Dua-duanya sama: dari Lampung sampai Aceh --hanya saja sebagian belum jadi.

Dua "jalan tol" itulah yang harus dihubungkan di bagian tengahnya. Maka dari gardu induk Aur Duri (''tol barat'') dibangunlah transmisi 275 kv ke arah pantai timur, ke gardu induk Garuda Sakti (di jalur 'tol' timur). Agar lebih fleksibel. Bisa saling membantu bila terjadi kepadatan arus.

Di jalur itulah, di salah satu sambungan kabelnya, putus.

Akibatnya listrik dari Sumsel yang dikirim ke Sumut lewat Garuda Sakti terputus di Aur Duri. Selama ini perjalanan listrik dari Sumsel ke Aceh itu memang lewat Garuda Sakti - Aur Duri - Payakumbuh - terus ke utara sampai Sumut dan Aceh. Arus listrik itu dibelokkan dulu ke barat karena ''jalan tol'' sisi timur belum selesai dibangun sampai Sumut.

Akibatnya tiba-tiba pasok listrik ke Sumut turun drastis. Frekuensi pun berubah mendadak. Itu karena daya pembangkit listrik di utara tidak begitu besar. Tidak seimbang. Terjadilah perbedaan frekuensi. Akibatnya pembangkit-pembangkit di Sumut ''terbanting' 'oleh perbedaan frekuensi: jatuh. Mati. Maka mati listriknya pun total.

Di Jawa yang seperti ini tidak akan terjadi. Jumlah pembangkit listrik di ujung timur 'jalan tol 500 kv' sudah seimbang dengan jumlah pembangkit listrik di ujung barat 'jalan tol 500 kv' Jawa. Yang timur di Paiton, yang barat di Suralaya Banten.

Dalam keadaan kebanting seperti itu yang dilakukan PLN adalah cek dulu kondisi jaringan. Pembangkit tidak boleh dihidupkan sebelum jaringan dinyatakan aman. Itu perlu waktu sekitar dua jam. Setelah jaringan diketahui aman, barulah pembangkit dihidupkan.

Yang paling siap dihidupkan pertama adalah yang genset yang pakai minyak solar. Prosedurnya mudah. Tinggal tekan tombol keluar listrik. Tapi jumlah pelanggan yang bisa tidak banyak.

Lalu pembangkit listrik tenaga air Asahan 1, 2, 3. Juga pembangkit geotermal: Sarulla. Rasanya dalam tujuh jam mereka sudah bisa menyala. Tetap saja belum cukup. Lumayan. Sebagian pelanggan sudah bisa menyala.

Yang memakan waktu paling lama adalah PLTU batu bara. Untuk menghidupkan kembali harus tunggu boilernya dingin dulu. Lalu diadakan pengecekan: akibat mati mendadak Jumat lalu bisa menimbulkan komplikasi.

Setelah dinyatakan aman barulah boiler dipanasi. Untuk bisa kembali menghasilkan listrik perlu 36 jam. Hampir dua hari sejak kematiannya.

Padahal daya dari PLTU ini sangatlah besar. Itulah sebabnya sebagian besar baru kebagian listrik setelah dua hari. Ikan-ikan di akuarium pasti sudah mati. Daging kurban di kulkas busuk --kalau tidak segera disate. Ternak ayam, harusnya punya solar sel. Toh kebutuhannya tidak banyak. Yang belum punya haruslah segera punya.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id