Lifestyle . 27/05/2026, 05:40 WIB

Jejak Sejarah Qurban: Ujian Keimanan Nabi Ibrahim dan Keteguhan Nabi Ismail

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

fin.co.id - Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan penyembelihan hewan qurban. Di balik ibadah tersebut, tersimpan kisah penuh keteladanan tentang pengorbanan, ketaatan, dan keyakinan kepada Allah SWT yang diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Kisah itu bukan sekadar cerita masa lampau. Hingga kini, peristiwa tersebut terus hidup dalam ingatan umat Islam dan menjadi makna utama dari ibadah qurban yang dilaksanakan setiap Idul Adha.

Dikisahkan, Nabi Ibrahim AS telah menanti kehadiran seorang anak dalam waktu yang sangat lama. Di usia yang sudah lanjut, beliau terus memohon kepada Allah SWT agar diberi keturunan yang saleh.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ash-Shafaat [37].

Doa itu kemudian dikabulkan Allah SWT dengan lahirnya Nabi Ismail AS dari Siti Hajar. Kehadiran Ismail menjadi kebahagiaan besar bagi Nabi Ibrahim yang selama puluhan tahun hidup tanpa keturunan.

Namun, kebahagiaan itu ternyata juga menjadi awal dari ujian besar yang harus dihadapi.

Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayi Ismail menuju sebuah lembah tandus yang belum dihuni manusia. Tempat itu kelak dikenal sebagai kawasan Makkah, dekat Baitullah.

Hamparan pasir dan panas gurun menyelimuti wilayah tersebut. Tidak ada sumber air, pepohonan, maupun tanda-tanda kehidupan. Nabi Ibrahim hanya meninggalkan sedikit kurma dan air sebelum bersiap pergi meninggalkan keluarganya.

Siti Hajar yang kebingungan terus memanggil suaminya.

“Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun?”

Nabi Ibrahim tidak menoleh. Hingga akhirnya Siti Hajar bertanya apakah itu merupakan perintah Allah SWT.

“Ya.” jawab Nabi Ibrahim.

Jawaban singkat itu membuat hati Siti Hajar menjadi tenang. Dengan penuh keyakinan ia berkata, “Kalau begitu kami tidak disia-siakan.”

Sebelum benar-benar pergi, Nabi Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah SWT:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14] : 37)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id