Internasional . 26/05/2026, 19:07 WIB
fin.co.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah pasukan militer Amerika Serikat meluncurkan serangan mendadak ke wilayah Iran selatan pada Selasa, 26 Mei 2026.
Komando Pusat AS mengklaim tindakan tersebut sebagai langkah "pertahanan diri". Keputusan ini langsung membahayakan kondisi gencatan senjata yang sudah rapuh, sekaligus memicu keraguan baru terhadap kesepakatan besar untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
Ironisnya, gempuran ini terjadi tepat saat para negosiator utama dari Iran tiba di Doha, Qatar, untuk memulai putaran perundingan damai terbaru. Langkah militer Amerika ini juga berbarengan dengan keputusan militer Israel yang meningkatkan permusuhan dengan kelompok Hizbullah sokongan Iran di Lebanon selatan.
Akibatnya, harga minyak dunia langsung berfluktuasi tajam karena pasar khawatir insiden ini mengancam pembukaan kembali Selat Hormuz yang sedang terkena blokade Iran.
Pihak berwenang Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi ini bertujuan murni untuk melindungi personel mereka dari potensi bahaya yang krusial.
"Pasukan AS melakukan serangan pertahanan diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," kata Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, dalam sebuah pernyataan.
Meskipun pernyataan resmi tersebut tidak menjabarkan kronologi secara mendetail, Hawkins menyebutkan beberapa target utama operasi, antara lain:
Di sisi lain, stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengonfirmasi bahwa beberapa ledakan keras terdengar jelas di sekitar wilayah Bandar Abbas sekitar tengah malam waktu setempat (Senin, 04.30 pagi waktu Singapura). Meski sempat memicu kekhawatiran, IRIB menambahkan bahwa situasi di kota pelabuhan selatan itu kini berangsur normal, dan pihak berwenang setempat tengah menyelidiki penyebab utama ledakan tersebut.
Serangan terbaru ini jelas menjadi batu sandungan besar bagi gencatan senjata yang sudah berjalan sejak 8 April lalu. Padahal, Washington dan Teheran sedang berjuang keras merumuskan kesepakatan demi menghentikan gangguan serius pada pasokan energi global.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate sempat turun lebih dari lima persen, sementara patokan internasional Brent justru merangkak naik pada Selasa, 26 Mei 2026 pagi.
Meskipun situasi memanas, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tetap optimistis bahwa kesepakatan damai masih mungkin terwujud.
"Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita akan lihat apakah kita bisa membuat kemajuan. Saya pikir ada banyak pembicaraan bolak-balik tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari," kata Rubio kepada wartawan di Jaipur selama kunjungannya ke India.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id