“Dia memanfaatkan kelengahan petugas. Itu yang terjadi,” imbuh Krisno.
Dari sana, pelarian Alung pun dimulai.
Setelah lolos, Alung bergerak cepat. Ia melintasi area belakang gedung. Masuk ke bangunan yang masih dalam tahap konstruksi. Bahkan, ia sempat bersembunyi di sebuah masjid di dalam kompleks.
Bayangkan suasana saat itu: sunyi. Hanya suara langkah tergesa dan napas yang tertahan. Ia tahu dirinya sedang diburu banyak polisi.
Tak lama, ia keluar dari area tersebut. Melompati batas kompleks. Menyusuri jalan menuju kawasan Aurduri—kampung asalnya.
Sejak saat itu, Alung seperti hilang ditelan bumi.
6 Bulan dalam Bayang-Bayang Pelarian
Waktu terus berjalan. Satu minggu. Satu bulan. Hingga enam bulan berlalu. Upaya pencarian dilakukan. Namun, jejaknya nyaris tak terdeteksi.
Ia diduga bersembunyi di rumah keluarga. Berpindah tempat. Menghindari sorotan. Sementara itu, kasusnya tetap berjalan di pengadilan terhadap tersangka lain.
Tekanan terhadap aparat juga meningkat. Insiden pelarian tersebut berujung pada sanksi internal terhadap penyidik yang bertugas saat itu.
Seorang perwira menengah, AKBP Nurbani, harus menelan pil pahit. Dia dicopot dari jabatannya.
Baca Juga
Kariernya terhempas ke Yanma Polda Jambi. Plus demosi selama 2 tahun. Ini akibat kelengahan yang berujung fatal.
Saat akhirnya ditangkap kembali, sosok Alung tak lagi sama seperti sebelumnya.
Rambutnya kini panjang. Wajah dan penampilannya berubah. Seolah mencoba menghapus jejak identitas lama. Namun, hukum tetap menemukan jalannya.
Rekaman CCTV yang sempat beredar juga memperlihatkan bagaimana ia berjalan santai setelah kabur dari kantor polisi.